WONOSOBO DAN DIENG

 

Wonosobo adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang berhawa dingin dalam kesehariannya, selalu diguyur hujan dan merupakan daerah yang terletak di dataran tinggi yang konon kabarnya terletak tepat di tengah-tengah Pulau Jawa, tentunya sebelum disadari banyak orang berlangsungnya pemanasan global yang membuat padang es di kutub bumi mencair sehingga membuat ketinggian air laut naik yang otomatis mengurangi jumlah daratan yang ada.

Wonosobo secara harfiah berarti hutan yang didatangi, dulu mugkin benar, tapi sekarang sudah nggak ada hutan lagi di Wonosobo, yang tersisa hanya hutan perawan di Gunung Kembang, anaknya Gunung Sindoro, itu saja kayaknya udah nggak perawan lagi, soalnya udah dilirak-lirik sama manusia atau bahkan mungkin udah dijamah, diperkosa.

Seperti karakteristik wilayah dataran tinggi lainnya, di Wonosobo banyak ditemui sumber mata air yang mengalirkan air ke tempat yang lebih rendah membentuk sungai-sungai yang berkelok menyesuaikan kontur tanah, kadang terkumpul di cerukan menjadi danau alam, dan dimuntahkan lagi membentuk air terjun yang bervariatif tingginya, dari yang cuma selutut anak kecil, orang dewasa sampai selutut raksasa tinggi besar yang kepalanya sampai menyentuh langit ( Langit-langit kandang ayam !!). Jalan yang berkelok juga sangat menarik perhatian, kadang terhalang aliran sungai yang memaksa manusia membuat jembatan untuk melintasinya. Di Wonosobo masih bisa dijumpai bangunan peninggalan jaman kerajaan ( candi dan harta karun yang berlimpah di gua-gua berupa mas-mas yang bergeletakan di tanah yang bisa dengan mudah kita temui, kita sapa,” lagi ngapain mas ?” Mereka pasti menyahut, “lagi ngaso dik, capek nih nyari sarang burung sriti !” ( yang ini agak didramatisir ding ! he he ), jaman penjajahan ( bangunan model Belanda yang konstruksinya kuat yang katanya dibuat sampai menghabiskan banyak telur bebek sebagai tambahan perekat adonan ( belum ada tukang martabak sih, coba kalo udah ada, pasti deh diprotes habis-habisan sama Asosiasi Pedagang Martabak Telor Wonosobo )), jembatan arsitektur tempo dulu, perkebunan teh, stasiun kereta api, jembatan kereta api, dan sisa peninggalan yang masih segar selalu ada sampai sekarang adalah warisan otak inlander primitif pemuja kapitalisme dan materi yang suka lihat orang lain susah dan susah lihat orang lain senang dan terdapat di segala tempat di manapun di berbagai belahan bumi pertiwi, peninggalan jaman orde baru juga ada ( SD Inpres, Masjid Pancasila, Gapura Pancasila ).

Di daerah pegunngan yang berada di tengah Pulau Jawa ini dengan mudahnya kita bisa menjumpai laut, apalagi sore hari, akan sangat terasa suasana laut yang mencolok. Penasaran ?? Coba saja kapan-kapan datang ke Wonosobo, menjelang sore ketika orang-orang mau pulang dari kesibukannya mencari nafkah/ kerja, ada bapak sais dokar, mas penjual es lilin ( di Wonosobo namanya sih es tung-tung ), ibu penjual sayur, pak tani pulang dari sawah, oom copet turun dari bus atau angkot yang terakhir, sopir angkot yang pulang lebih awal, semuaaaanya yang pada mau pulang ke rumah….Tanyakan pada mereka semua,” Mau kemana Pak? Mas?Mbak?Oom?Bu?Kang?Yu?Ndes?” Mereka pasti kebanyakan akan menjawab,”Laut !!” Coba saja ! But boys & girls, don’t try this at home if you were sure that you’re not in Wonosobo !! Kemudian coba tanya lagi,” Lautnya jauh Pak?Mas?Mbak?Bu?” Jawaban mereka akan sangat bervariasi, ada yang jawab dekat, ada yang jawab hampir sampai, ada yang jawab agak jauh…lho memang lautnya ada berapa sih di Wonosobo? Kok buanyak bangets?? Bahkan kalau diantara anda sempat main ke daerah Kalianget, Singkir akan banyak dijumpai “Kuda Laut” di sana. Nggak percaya ? Main ke Wonosobo ya ??!!….

Tapi pesan saya untuk tourist lokal maupun manca yang ingin singgah di Wonosobo untuk menikmati suasana dan isinya, hati-hati kalau melintasi atau bertemu dengan tempat atau orang-orang dari dua kerajaan besar yang sampai sekarang masih ada dan tetap bertahan di dunia modern di Wonosobo, kedua kerajaan itu bernama Kerajaan Binangun dan Kerajaan Kalianget. Kalau sekarang sih sudah tidak seperti 4 tahun sebelumnya. Di kedua kerajaan yang saling dan sering berseteru dengan kerajaan kecil lain di Wonosobo, masih banyak dijumpai ksatria-ksatria berkalung sarung, kadang ada sablonan di bagian tubuh, ngalor ngidul nggowo gendhul, yang sangat sensitif terhadap pandangan mata orang lain,” Ngapa mencicil, nek wani selon mayo ” !!. Berhati-hati saja untuk selalu menjauhi bertatap mata dengan mereka, mendingan menunduk, mata dipejamkan….Nabrak togor listrik banjur batuke tetep benjut !! Pada bae, mending kisruh sisan, rawe rawe rantas malang malang putung.

Sekarang tentang Dieng

Dataran tinggi Dieng terletak kurang lebih 21 km dari pusat kota Wonosobo, dengan asumsi pusatnya adalah Alun-Alun Wonosobo, namanya juga dataran tinggi, berada di sana terasa hawa dingin yang terkadang sangat menusuk sate, sorry salah menusuk tulang. Bahkan pada pagi hari, solar di dalam tangki truk yang akan membawa hasil pertanian petani dieng bisa membeku dan harus diencerkan dulu dengan cara dipanasi bagian bawah tangkinya. Dan kalau sudah ada di sana jangan merepotkan pedagang makanan atau minuman dengan memesan dibuatkan es teh, pernah kawan saya ajak ke komplek candi, dia pesan dibuatkan es teh tapi sang penjual malah ketawa-ketiwi,” Adhem-adhem ngene ka ngombor, eh, ngombe es mas ” !!. Suatu saat ketika suhu sangat rendah, di sini sering terjadi juga hujan es batu, orang setempat menyebutnya “bun upas” yang sangat tidak diharapkan oleh petani kentang di daerah Dieng dan sekitarnya, karena “bun upas” ini akan menjadikan tanaman kentang mereka bisa membusuk dalam beberapa hari ke depan. Banyak sekali terdapat obyek wisata di dataran tinggi Dieng, kumpulan candi yang letaknya tersebar, telaga, gua, kawah yang selalu menjadi ciri khas vulkanik di semua tempat. Yang saya heran, di Dieng ini banyak candi Hindu, tetapi sampai sekarang sepertinya tidak ada penerus berupa sekelompok keluarga atau kampung yang beragama Hindu di sekitar sini. Sepertinya candi di Dieng ini berfungsi sebagai tempat ibadah kaum brahmana, kasta tertinggi dalam agama Hindu, yang hidup menyendiri (aloner), tidak berkeluarga untuk meneruskan keturunannya, dan hanya fokus untuk mendekatkan diri kepada Sang Hyang Widhi di lokasi yang letaknya paling tinggi dengan harapan jarak vertikal dengan sang pencipta menjadi dekat. Yang saya heran lagi, makam orang terhormat baik itu dalam bentuk komplek maupun terpencar masing-masing juga tidak ditemui. Pada kemana mereka setelah meninggal di sana ? Sama sekali tidak ditemukan makam-makam kuno yang berada di radius puluhan kilometer dari lokasi situs sekarang berada. Apakah masih ada peninggalan candi induk dan komplek tinggal para brahmana yang terpendam di bawah tanah, atau terpendam di suatu lokasi di gunung prau ? Belum ada ahli arkeologi yang berusaha mencari jawabannya. Tradisi masyarakat yang seharusnya diwarisi turun temurun juga sepertinya tidak dijumpai, selain upacara pemotongan rambut anak setempat yang memiliki rambut lain dari anak yang lain, rambut gembel. Ataukah komplek candi induknya berada di dasar salah satu telaga, kawah besar yang sekarang masih ada ? Saya memang tidak tahu persis pakem pembuatan candi versi arsitektur jaman kerajaan Hindu dulu, atau mungkin versi dari teori-teori arkeolog yang telah mempelajarinya sehingga menemukan karakteristik komplek candi Hindu yang ada di Indonesia.

Jadi hal ini hanya menjadi suatu pertanyaan yang sekedar pertanyaan tanpa tanggung jawab, atau keinginan saya untuk memperoleh jawaban lebih jauh. Memang sudah merupakan ciri bagi manusia yang ingin mendekatkan diri pada Sang Kuasa dengan membangun tempat pemujaan di tempat-tempat yang tinggi, atau dengan membangun bangunan yang tinggi dengan harapan lebih dekat dengan keberadaan Sang Kuasa yang ada di langit. Tetapi tidak begitu untuk komplek candi di Dieng, semuanya tersebar dengan letak ketinggian yang relatif sama, tidak ada ketinggian salah satu candi yang mencolok dibandingkan lainnya, hal ini jelas menimbulkan pertanyaan lagi, ” Di mana pusat tempat peribadatan itu? Ataukah memang begitu adanya ? I’m not sure about that, nobody really sure about it. One thing I’m sure about is welcome to Wonosobo and enjoy it !

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s