TOTALITAS AKTING AKTOR DAN AKTRIS PROFESIONAL

John Travolta, Sean Connery, Mel Gibson, Brad Pitt, Tom Cruise, Will Smith, Kevin Costner, Nicholas Cage, Kurt Russel, Pierce Brosnan, semuanya aktor terkenal yang pernah memerankan karakter berbagai macam profesi dan berbagai macam kelas dalam tatanan kehidupan masyarakat.

Yang saya maksudkan totalitas di sini adalah begitu mendalaminya mereka memerankan tokoh dalam skenario, diawali dengan riset pribadi sebagai persiapan aktingnya nanti untuk mengetahui secara detil sampai setiap hal kecil apa yang dilakukan tokoh atau profesi yang akan diperankannya. Tidak hanya suatu bentuk penghayatan komersil untuk suksesnya fil masuk dalam 5 besar box office saja, tetapi juga karena kecerdasan intelegensia dan emosional mereka, membuat dan mengubah cara pandang mereka terhadap tokoh-tokoh yang pernah diperankannya. Memerankan tokoh seorang squad pemadam kebakaran, polisi, penjahat, penipu, orang desa, seniman, teknisi, ilmuwan, pastor, pelayan hotel, tentara, petugas medis, dokter, orang miskin, cowboy, penjaga toko, pelayan masyarakat, politikus, petani, nelayan, jagoan legendaris, membuat mereka pada saat memerankan dirinya sendiri dalam bersosialisasi kesehariannya menjadi bisa menghargai berbagai macam profesi yang mereka temui. Memahami masalah-masalah mereka, kebahagiaan mereka, kesedihan mereka, ketidaksukaan mereka atas suatu perlakuan dari orang lain, kesulitan mereka, keinginan mereka, hak-hak mereka. Para aktor yang profesional ini menjadi sensitif, mereka bisa belajar meskipun hanya dari pengalaman mereka yang pernah memerankan seorang tokoh dan terlatih nuraninya untuk bersikap sama derajatnya walaupun mereka sebenarnya orang terkenal, kaya dan bisa memenui setiap kebutuhan materi yang diinginkannya.

Tidak seperti aktor dan aktris amatir yang bekerja kejar tayang yang berorientasi materi dan nafsu dikenal banyak orang yang hanya memperoleh materi saja atas peran-peran yang pernah mereka lakoni. Mereka ini hanya mengandalkan wajah menarik yang terbatas bertambahnya usia tanpa membekali kemampuan akting dalam arti sebenarnya dan mereka takut akan habisnya umur ekonomis aktingnya karena hanya wajah saja yang diandalkan. Mereka menganut prinsip aji mumpung, bekerja tanpa lelah untuk mengumpulkan materi sebagai bekal masa tuanya, coba kalau mereka mau belajar, walaupun tua justru akan semakin matang dan tetap dibutuhkan kapanpun nanti untuk memerankan tokoh-tokoh yang memang harus berumur. Hal ini juga menyentil film Indonesia yang berorientasi pada indahnya bungkus adanya pemeran yang muda, cantik, tampan yang masih diidolakan pasar. Film hanya melulu masalah cinta, materi, jarang sekali film drama kehidupan sosial yang memang sudah menjadi realita kehidupan sehari-hari.

Berperan menjadi ustadz padahal kesehariannya kecanduan alkohal dan sex bebas bahkan narkoba. Berperan sebagai pecandu narkoba, sampai saking menghayatinya dia sendiri terjerumus kecanduan narkoba dan akhirnya karena transparansi publik figur dengan terpaksa harus menikmati menantangnya hidup dalam penjara ( emang film prison break ?? ). Orang-orang seperti ini, walaupun kerja tapi gagal mengambil hikmah atas kesempatan belajarnya yang tidak didapatkan oleh setiap orang.

Totalitas itu berarti apa yang telah dilakoninya, dijadikan pengalaman selama hidupnya untuk bisa menghargai orang lain yang berinteraksi dengannya setiap saat.

Totalitas itu kekomplitan, tidak tanggung-tanggung, dari a-z sehingga mereka bisa berperan membantu dengan berbagai macam cara untuk memberikan jalan keluar atas setiap permasalahan yang pasti dialami orang-orang dalam keprofesian yang pernah diperankannya. Mereka menjadi sekumpulan figur masyarakat yang terbukti bisa melakukan apa yang dikatakan mulutnya, walk the talk, berhati-hati mengungkapkan kata-kata sampai mereka yakin benar memang melakukannya. Bukan seperti Mr. Jarkoni yang NATO (no action talking only ). Arnold Schwarzeneger sampai bisa menjadi gubernur di Kansas mungkin juga karena pemahaman yang pernah dipelajarinya pada akting-akting sebelumnya.

Tapi memang, lebih mudah untuk bicara, menyuruh, mengajak orang lain daripada memerintahkan pribadi kita konsisiten dengan setiap ucapan yang lewat mulut busuk kita. Mulut yang penuh tipu muslihat yang hanya digunakan untuk mengamankan sifat dasar ingin dianggap baik oleh orang lain, mulut yang dipakai sebagai pelindung keserakahan kita, mulut yang hanya dipakai untuk menyembunyikan kata hati kita yang sebenarnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s