PAHA, BETIS, ROBEKAN DADA, ROBEKAN PANTAT MENYERANGKU DARI SEGALA ARAH

Apakah anda mengalami hal yang saya rasakan ?

Takjub, enjoy, prihatin, mrenges, tepuk tangan, berdebar, ngiler, menjerit, tertawa, menangis, melirik, melotot ?

Cara berpakaian ”wanita modern” pasca emansipasi wanita memang sangat memprihatinkan/mengasyikkan. Dengan lembaran busana minim irit, ketat dan belum jadi yang menonjolkan bentuk tubuh yang indah selalu dapat dijumpai di manapun kita berada, di kota, di desa, di Jogja, di Wonosobo, di Jakarta, di mall, di sawah, di ruang rapat, di kamar tidur, di kolam renang, di masjid, di kantor, di kampus, di sekolah, di pasar, di angkutan umum, di televisi, di radio ( masak di radio kelihatan ?? ).

Barangsiapa yang tidak berpakaian seperti ini dianggap kuno, ketinggalan jaman. Apaka ini karena mereka memakai kata-kata hikmah ”Berpakaianlah sebagaimana halnya orang kebanyakan berpakaian”?

Paha padat putih mulus, betis indah tanpa bekas koreng, dada montok, pantat padat serasa ingin mencolek ( he..he, serasa ingin mencontreng, karena kebetulan kemarin pemilu leg 1 sengaja nggak ikut nyontreng, kalau milihnya mencolek sih malah ikutan berpartisipasi ??!! ), menari di depan mata diperindah kekuatan setan untuk menarik perhatian kita selama mungkin. Saya sendiri masih ragu, apakah saya menikmatinya ( jelas…! lah ) ataukah prihatin ( jelas…! tidak ). Atas nama fashion kiblat barat, paris, milan, madrid, addis abeba, nabire, timika, zimbabwe, penggiringan persepsi sesat kembali dihembuskan setan untuk mencari tabahan kawan sebanyaknya yang akan merasakan beban hukuman nanti di akhirat.

Dalam hal ini sudah tidak jelas lagi batas antara baik dan buruk. Semuanya tergantung persepsi orang-orangnya.

Pasangan kekasih tanpa malu-malu menunjukkan aktivitas ekspresi cinta mereka di depan umum yang sudah melewati batas moral. Bagaimana aktivitasnya jika berada di tempat pribadi, sepi tanpa ada orang lain selain mereka berdua ? Pasti jauh lebih ”hot” nanti ( di neraka ). Siapa yang bisa mengembalikan keadaan setidaknya di masa di mana seorang wanita lebih santun berpakaian, lebih sering berada di dalam rumah ? Ulama ? Orangtua? Guru ? Saudara ? Produsen pakaian ? Pemerintah ? Pemimpin bangsa ? Atau haruskah Tuhan mengingatkan secara langsung kepada mereka ?

Orang melakukan perzinaan sudah di depan mata, perselingkuhan menjadi hal lumrah. Lihat saja, lagu anak muda jaman sekarang yang mengalami fenomena pergeseran tema yang berkisar tentang perselingkuhan, hati yang mendua. Ikatan perkawinan sebatas di cincin yang dikenakan di jari manis, begitu dilepas, lepaslah juga ikatan sakral yang telah diikrarkan melalui akad nikah sebelumnya.

Kembali ke cara berpakaian, saya juga mengamati adanya pakaian alternatif bagi wanita muslim di mana dia mengenakan hijab, jilbab tapi itu sebatas untuk menutupi rambutnya yang kurang terawat, kewajiban mengenakan pakaian muslim yang disalahartikan di kampusnya sehingga terdapat suatu modifikasi berpakaian, berjilbab tapi berpakaian ketat, yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang….slruupp….indah ! Jilbab Montok I call it, Karena menjadi hal yang biasa, perbuatan tau tingkah laku menyimpang akhirnya memperoleh legitimasi oleh masyarakat atau lingkungannya dan akhirnya akan sangat benar-benar melenceng dari yang sepatutnya, menimbulkan pergeseran budaya, etika, moral, adat yang bermanfaat menjadi mudharat.

Thanks, mau ngopi dulu ah, keburu dingin.

Sambil ngedengerin hentakan Helloween, Im the keeper of the seven keys, that lock up the seven seas.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s