MY WEIRD DREAM AT 28th OCTOBER 2008

Ada tiga scenes :

 

·

 

Melakukan suatu perjalanan bersama saudara dan kawan melalui jalan setapak di daerah pegunungan, diawali dengan berdebat menentukan jalur pintu masuk yang akan dilalui, sedangkan pada saat itu ada dua pilihan dimana hasil akhir perjalanan aku yakini pasti akan berbeda untuk masing-masing pilihan. Akhirnya keputusan pun telah diambil, setelah beberapa saat menyusuri jalan tanah menurun, kami dihadapkan pada tebing berbatu yang di bagian atasnya terdapat beberapa makam, yang terlihat menonjol adalah makam kecil yang sepertinya makam orang suci. Di situ telah ada seorang yang membawa tiga keranjang berisi rumput segar yang juga akan melewati jalur tersebut. Sambil menata batu sebagai pijakannya menuruni bukit itu untuk mencapai jalan di seberang bukit ia berpesan agar kami berhati-hati. Ia menata batu disamping sebagai tempatnya berpijak juga untuk mencegah agar pondasi bukit tidak erosi tergerus aliran sungai di bawahnya yang bisa melongsorkan bukit dengan sedikit lapisan tanah dan makam-makam yang terdapat di atasnya. Aku melihat ada teman seperjalanan yang tiba-tiba sudah ada di seberang bukit, entah kapan dia mulai menuruni bukit, menyeberang sungai hingga sudah berada jauh di bukit seberang. Kawanku itu menghadap kepada kami semua sambil berteriak memberi petunjuk langkah yang harus kami ambil. ( Kawanku yang ada di bukit seberang itu namanya Pras, teman kuliah adikku di Fakultas Geografi UMS angkatan 1997 yang aku juga mengenalnya dengan baik, sudah lama tidak bertemu, entah bagaimana kabar dan keadaannya sekarang. Hallo Pras, di mana kamu sekarang ? )

 

·

 

Perjalanan kedua yang sepertinya seperti proses seleksi manusia yang bisa bertahan, entah bertahan dari apa, siapa ? Perjalanan bersama orang tua yang aku nggak ingat siapa saja mereka. Perjalanan di suatu lokasi seperti areal hutan kecil dengan banyak tumbuhan besar dan kecil, dengan areal persawahan di sebelah kiri yang tingginya sejajar sedangkan di sebelah kanan, posisinya lebih rendah terdapat jalan yang agak besar dengan jurang di sebelah kanannya lagi ( Lokasinya seperti di daerah Ketinggring, perjalanan dari arah Kalibeber menuju Wonosobo, tepatnya setelah jembatan dimana sering dijumpai terdapat bambu ambruk yang melintang menghalangi jalan )

Ada aturan permainan pada perjalanan itu, pada saat yang telah ditentukan, akan terdengar tiupan terompet sebagai tanda akan dilesatkannya sekelompok bayangan serigala sebesar sapi yang bisa terbang melayang, bisa menembus apa saja yang dilintasinya kecuali tanah dan batu. Orang-orang berlarian sambil setiap saat mencari tempat persembunyian sementara di balik tebing, batu, di dalam gua, di dalam akar pohon yang besar, memanjat pohon, khawatir, gelisah, tegang, takut dan selalu menengok ke belakang. Aku atau entah sosok pahlawan siapa yang merupakan tokoh sentral pengingat mimpi yang aku perankan melihat ada serigala dengan ukuran normal yang pura-pura mati di jalan berbatu di sebelah bawahku, ada burung kecil yang tiba-tiba terbang dari semak-semak dekat serigala itu melintasi jalan menuju seberang dan kemudian bertengger di pohon kopi.

Tidak berani mengambil resiko, aku mempersiapkan bambu runcing yang sepertinya memang sudah ada ( aku sendiri heran, tidak membawa, tidak membuat, tapi tahu-tahu sudah ada dalam genggaman tanganku ). Pada saat serigala bangun dan hendak menerkam, meloncat dari bawah ke arahku, aku songsong mulutnya yang terbuka menganga dengan bambu runcing itu, melalui mulutnya bambu masuk hingga ke tubuhnya dan kemudian bambu juga sampai menembus badan serigala keluar menghujam ke dalam tanah. Serigala mengerang kesakitan, terlihat jelas bagian dalam mulutnya dengan deretan gigi dan taring yang tajam. Serigala itu seolah menghisap bambu sampai menembus tanah semakin dalam, padahal aku sudah tidak memberikan tekanan berarti lagi terhadap bambu yang kupegang. Pada saat ajalnya datang, burung kecil pengkhianat di seberang jalan berkicau, mengoceh seolah memberitahukan kepada serigala-serigala lain yang langsung melesat dalam jumlah semakin banyak menembusi pepohonan seperti angin dan bayangan dalam wujud serigala. Orang-orang mulai mencari tempat perlindungan masing-masing, terlihat jelas ada orang yang memanfaatkan akar pohon besar yang berbentuk seperti kurungan sebagai tempat bersembunyinya tengah dikerubuti serigala yang mencakar-cakar ke dalam berusaha menggapai tubuhnya.

Sambil terus berlarian dan bersembunyi, orang yang masih bisa bertahan sampai pada sebuah komplek militer yang dijaga ketat, di sana terlihat tentara Islam sedang ibadah sholat di masjid, tentara Kristen sedang duduk berderet di kursi, berkumpul mendengarkan khotbah pendetanya di dalam sebuah gereja. Tapi anehnya ada satu tempat lagi bagi tentara muslim, seperti sebuah masjid tapi lebih kecil. Jadi memang ada dua masjid di komplek militer itu. Di masjid yang kecil, orang-orang yang dikejar serigala tadi bertemu dengan pemimpin orang-orang yang sedang berdoa di dalamnya, mereka menceritakan perjalanan mereka selama dikejar. Kemudian sang pemimpin doa atau sang imam di masjid kecil itu bertanya,”Apakah dua tumbal sebagai persembahan sudah diperoleh kaum serigala untuk ritualnya ?” Orang-orang yang dikejar menjawab,”Sudah ! Dua tumbal yang mereka sebut dengan istilah jenglot sudah berhasil dipersembahkan serigala untuk pujaannya.” Orang-orang yang dikejar kemudian meneruskan katanya,” Tinggal satu persembahan lagi yang mereka sebut dengan istilah… ( lupa apa yang disebut dalam mimpiku ) yang sedang mereka kejar.” Memang orang-orang yang dikejar itu tampaknya sedang mempertahankan sesuatu yang dicari kaum serigala.

Imam masjid kecil di komplek militer mengatakan bahwa inilah saat dimulainya perjuangan/perang, tapi justru pada saat dia selesai mengatakan itu, serta merta jamaah yang sebelumnya berdoa bersamanya membubarkan diri dengan pendapat yang sama bahwa apa yang diyakini imamnya adalah sesat sehingga mereka tidak mau mengikutinya. Dan ternyata lagi, scene mimpi habis waktunya meninggalkan berbagai pertanyaan tidak terjawab lagi….

 

·

 

Scene ketiga entah ada hubungannya dengan scene-scene sebelumnya atau tidak, aku tidak tahu pasti. Tapi perasaanku mengatakan ada, dengan melihat situasi, keadaan dan lokasi yang mirip, hanya sepertinya ada missing link antara ketiganya yang tidak bisa kuingat.

Aku bersama sekelompok orang masih melakukan perjalanan menuju suatu tujuan yang tidak jelas, orang-orang berjalan tanpa ada ekspresi pada raut muka mereka, tanpa ekspresi takut ataupun senang, tanpa ekspresi bahagia maupun gelisah, semua tanpa ekspresi berjalan menyusuri aliran sungai kecil. Di sepanjang jalur aliran sungai yang airnya agak mengering, aku menjumpai selalu ada uang receh 500an rupiah berceceran, hanya aku saja yang memungutinya. Saking banyaknya recehan dan karena aku juga tidak ingin tertinggal rombongan dalam perjalanan itu, aku tidak bisa selalu memunguti tiap receh yang kutemui. Aku hanya mengambil yang bisa kugapai dengan mudah saja agar tetap berada dalam perjalanan bersama rombongan.

Dan ternyata lagi… scene mimpi yang ini juga tidak ada akhir yang jelas yang kembali memunculkan pertanyaan-pertanyaan tak terjawab lainnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s