INTELEKTUALITAS

Siapakah kaum intelek itu menurut anda?

Apakah orang dengan pakaian standar barat ( white collar ), celana panjang, baju lengan panjang dengan hiasan dasi di leher, memakai jas dan bersepatu mengkilat ? Padahal tidak jelas apa yang dikerjakannya ( pekerjaan sih jelas, ada pengusaha, dosen, eksekutip muda, pegawai negeri atau swasta, haji, broker di Bursa Efek Indonesia yang nggak ada efeknya sama sekali buat rakyat, da’i, agen rahasia, TNI/POLRI, Direktur (Jenderal), ulama, kiai, pendeta, tokoh masyarakat, dan lain sebagainya

Apakah kaum intelek itu orang-orang yang menjadi anggota suatu ikatan profesi ?

Bukan !

Yang dimaksudkan dengan kaum intelektual adalah bukan mereka yang memiliki gelar doktor, kebangsawanan atau yang lainnya, namun yang dimaksud adalah mereka yang mempunyai rasa tanggung jawab terhadap arah tujuan perjalanan bangsa dan negaranya, mereka yang berjuang keras untuk membuktikan sebuah hakikat atau idealisme yang mereka yakini kebenarannya, dan mereka yang berjuang keras untuk menuju jalan terang benderang dan menyadari sepenuhnya tanggung jawabnya terhadap kemanusiaan, umat dan bangsanya.

Yang jelas lagi bukan saya !

Jadi…

Sangatlah salah besar kalau persepsi intelek itu hanya orang yang bergelar akademik S1, S2, S3, S4, S5, Doktor, sedangkan apa yang mereka ketahui pada bidang ilmunya hanya digunakan untuk kepentingan pribadinya saja untuk mencari nafkah, apa yang dikejarnya hanyalah karena nafsu untuk memperoleh dunia dan pengakuan orang lain akan tingginya pendidikan yang dimiliki betapapun kerasnya dan besarnya pengorbanan yang mereka keluarkan dalam upaya mencapainya.

Apakah gunanya gelar tinggi jika tidak dapat mengangkat harkat, martabat dan derajat orang lain di sekitarnya, tanah kelahirannya, bangsa dan negaranya. Mereka tinggal di rumah mewah, serba berlebih, makan makanan yang lezat, berpenghasilan tinggi entah darimana asalnya. Mereka membuat batasan bagi diri mereka sendiri melalui organisasi-organisasi buatan sendiri seperti ICMI, Gapensi, HIPMI, IMI, IDI, Ikatan Insinyur Indonesia, Ikatan Pengacara, Artis, ROTARY CLUB, par-tai dan ikatan-ikatan konyol lainnya yang selalu merasa nomor satu jika sedang berinteraksi dengan masyarakat ( baca : rakyat jelata ). Belum lagi adanya persaingan antara satu ikatan dengan ikatan lainnya yang berada pada bidang yang sama dengan mengklaim bahwa ikatan yang mereka ikutilah yang paling benar, paling resmi, yang semakin membuat malu.

Melihat banyaknya orang yang mengaku intelek di bumi Indonesia ini dengan mempertimbangkan kuantitas lulusan perguruan tinggi yang sangat besar tiap tahunnya, saya masih saja heran,… kok sumber daya alam yang dimiliki bangsa kita masih saja dijual, dieksploitasi untuk kepentingan segelintir orang. Padahal dalam UUD 1945, disebutkan bahwa sumber kekayaan alam yang dimiliki bangsa dikelola oleh pemerintah untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itu harta milik rakyat bung ! Tapi malahan rakyat yang seharusnya sangat kaya kok hidupnya susah dan dibuat susah terus dari dulu?

Kalau memang orang-orang pemerintah itu adalah kaum intelek pilihan, seharusnya semua fasilitas umum dan penting bagi yang menguasai hajat hidup orang banyak harus ada dan harus gratis, atau paling tidak rakyat tidak susah untuk mendapatkan hak-haknya. Bidang kesehatan masyarakat berfungsi agar kesehatan masyarakat terjamin secara mudah dan tidak sulit, bidang pendidikan dasar mudah digapai anak-anak tanpa harus merepotkan orang tuanya yang memang sudah repot untuk sekedar mencari nafkah buat makan. Emang yang namanya pegawai pemerintahan pada kerja nggak sih ? Itu semua juga kan untuk kalian pakai sendiri nantinya ! Bikin jalan tambal sulam terus, jalan nggak ada yang mulus, emangnya kalian juga nggak pakai apa? Bayangkan jika anda, anak anda, keluarga anda celaka karena jalan yang anda buat berlubang karena dipangkas fiktif anggarannya, apa anda nggak mikir ?

Rakyat seperti diperah untuk kepentingan suatu golongan setan, sudah hidup susah, dikejar-kejar harus bayar pajak, mau kemana-mana harus ada keluar uang. Benar-benar diperah sampai tidak ada sisa untuk bisa dinikmati. Sudah santannya dipungut, ampasnya masih direbut pula !

Seharusnya sistem dan segala isi dari suatu lembaga pengakuan bernama pemerintah bisa merencanakan, mengatur dan mengelola sumber daya sumber daya yang ada untuk kepentingan bersama atas nama bangsa.

Wahh, kebetulan lagi nulis sambil nongkrongin TV pas ada program Hitamnya hitam di stasiun TV One, pas ceritanya Johny Indo…menarik sekali…break konsen dulu ya….( gara-gara dengar Johny bilang ‘kok ada kaya, kok ada miskin…kok nggak merata ?) Mumpung iklan nulis lagi….

Pemerintah diberi wewenang dan amanat oleh rakyat yang nota bene adalah bos mereka. Tapi apa yang terjadi saudara-saudara?

Bos-bos yang mempercayakan dan mempekerjakan mereka justru tidak bisa menikmati apa yang mereka miliki, pertanggungjawaban yang penuh tipu muslihat, mereka ditikam dari depan, samping, atas, bawah dan belakang, mereka diracun, ditipu dengan sandiwara, dijerumuskan, dibius, dikaburkan penglihatannya, ditulikan telinganya, dicucuk hidungnya….

Indonesia kaya raya, indah, komplit…tapi semuanya sudah dijual oleh para penjual bangsa berkedok pahlawan dengan harga yang tidak seberapa apabila semua itu dikelola sendiri. Siapa yang beli ? Tuan Kapitalisme namanya !

Omong kosong kalau bangsa kita tidak punya teknologinya, lalu apa gunanya gelar Ir, dr, ahli ekonomi yang angat banyak jumlahnya kalau tidak untuk membangun kejayaan bangsa Indonesia yang bermartabat, mempunyai harga diri dan memiliki persamaan kedudukan dengan negara manapun di dunia yang kecil ini ?

Satu hal lagi yang masih menjadi ganjalan di hati saya….

Ulama, ulama artinya orang yang berilmu, ulama tidak hanya orang yang mendalami dan menguasai ilmu agama saja ( Islam ) menurut saya. Seorang dokter, insinyur, sarjana ekonomi, pedagang, loper koran, mahasiswa/pelajar, guru, kiai juga adalah ulama yang memiliki intelektualitas sehingga dengan pengetahuan sesuai bidang yang mereka kuasai bisa mengaplikasikannya pada kehidupan berbangsa demi kepentingan kesejahteraan bersama. Dasar dari keberhasilan kehidupan berbangsa yang bermartabat adalah pelaksanaan kerja sebagai ibadah dan amanah yang berorientasi kepada kemanfaatan bagi orang lain terlebih dahulu, baru kemudian berefek kepada kemanfaatan bagi pribadinya.

Buat apa pengetahuan, ilmu, spesialisasi yang dimiliki apabila tidak untuk ditularkan, diajarkan kepada orang lain yang meminta atau membutuhkan. Bisa jadi bisul bung !

Jangan beranggapan karena untuk memperoleh gelar akademis dalam suatu bidang keilmuan di lembaga pendidikan itu kita telah mengeluarkan banyak biaya dan pengorbanan menjadikan kita pelit lalu menimbun, menyimpan ilmu dan kebenaran atau informasi yang telah kita ketahui untuk kepentingan konsumsi masyarakat yang berhak tahu. Bahkan seharusnya tanpa dimintapun kita memberikan secara ikhlas sebagai upaya kita menjadi khalifah di permukaan bumi untuk menasehati, mengajarkan, menyadarkan, mengajak semua umat manusia akan pentingnya hidup sederajat dan nikmatnya kebersamaan dalam penghidupan yang layak.

Rakus akan ilmu tidak menjadi masalah, asalkan kita tahu hakikat bahwa ilmu itu bukan rahasia untuk dikonsumsi sendiri. Dengan meneruskan pengetahuan yang telah kita ketahui lebih dahulu akan memungkinkan pengetahuan baru masuk ke otak dan akal kita yang kapasitasnya terbatas . Fungsi penyebaran pengetahuan bagi seseorang adalah untuk F5 ENTER atau me-refresh isi, kualitas, kuantitasnya sehingga sedikit demi sedikit akan memperbanyak jumlah jawaban-jawaban yang kita cari atas pertanyaan-pertanyaan kita terhadap banyaknya misteri illahi yang masih menjadi rahasia atau ghaib bagi umat manusia di dunia.

Wahh…acara TV ganggu konsentrasi aja nih ! Ini udah siang lagi, tulisan sempat pending beberapa jam buat istirahat jiwa dan raga melalui proses tidur yang nyenyak. Eh…Nikita Willy emang bener-bener cantik ya ??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s