WAKIL RAKYAT

Wakil rakyat taik ! Yang namanya wakl rakyat itu seharusnya mewakili rakyatnya, menjadi bagian dari rakyatnya sehingga bisa mengetahui permasalahan apa yang telah, sedang dan bakal menimpa yang diwakilinya. Rakyat itu juragan kalian, rakyat itu bos kalian, layani sebaik-baiknya, cukupi kebutuhannya. Jangan malah merasa jadi bos, jangan hanya bernafsu memuaskan kebutuhan sendiri, nggak cuma ingin mencukupi kebutuhan kalian itu tapi sudah bernafsu menumpuk kekayaan untuk kepentingan pribadi. Jangan heran nanti kalau banyak wakil rakyat, politisi parasit yang dicegat di jalan, dirampok ketika pulang dari tiduran di gedung dewan di dalam mobil mewah yang diberikan rakyat sebagai penunjang perjuangan yang telah dikhianati.

Wakil rakyat koar-koar minta agar rakyat memilihnya mewakili melalui cangkem,…eh…cocot,…eh…mulut manisnya dengan janji akan menyuarakan segenap persoalan yang dihadapi yang diwakilinya, pasang iklan dan propaganda sesat di jalan-jalan tanpa bayar retribusi, merancang skenario canggih agar harta rakyat mengalir ke perutnya yang tak pernah kenyang.

Kenyataan yang ada apa, mereka membuat aturan dan undang-undang untuk kepentingan golongan sendiri, mereka membuat aturan yang bisa dipesan dengan imbalan tertentu untuk kepentingan kapitalisme yang bagaikan lintah menghisap darah, menguras kekayaan sumber daya negara ( mendingan lintah beneran, cuma menghisap darah yang memang lebih bagus tidak ada di dalam aliran sekujur tubuh kita ), kerjanya hanya melobi kontraktor, rekanan kerja pemerintah, inspeksi mendadak ke daerah cuma mau minta amplop karena jumlah saldo di tabungan yang atas nama pembantunya semakin mendekati limit standar bawahnya yang kalau dipikir-pikir sebenarnya masih guede bgt nominalnya.  

            Definisi kerja wakil rakyat juga nggak jelas, apakah mereka hanya menjalani karir profesional demi memperoleh pendapatan saja, atau haruskah mereka bekerja menyuarakan setiap hal yang berkepentingan dengan kesejahteraan rakyat, bekerja membangun sistem di mana setiap lapisan masyarakat dengan berbagai macam latar belakang bisa merasa hidup terjamin, aman, dilindungi dalam suatu komunitas bernama negara dengan porsi yang adil dan merata. Masyarakat hanya mau hidup layak dan mudah, sumber daya alam sudah ada yang bisa dijadikan modal menjalankan kedaulatan negara, tinggal diatur, dikelola, dirancang agar semua itu bisa digunakan bersama untuk mencukupi kebutuhan setiap orang yang memiliki nyawa di tanah Indonesia Raya. Jangan silau dengan uang sogok, dab ! Uang satu milyar rupiah yang masuk kantong menjadi sangat kecil, dibandingkan jumlah kekayaan alam yang tersedot ke tangan pengusaha, investor asing ataupun badan usaha swasta.

Kalau pengelolaan setiap aspek negara yang pada intinya meliputi pemasukan, proses tranformasi dan keluaran berlangsung dengan baik, rakyat tak perlu bayar biaya pendidikan dasar ( kalau perlu nggak usah ada sekolah, belajar saja dari kehidupan ini ), kesehatan gratis, air minum gratis, listrik gratis untuk tiap pemakaian yang nggak melebihi limit standar per kepala keluarga. Sudah diperas bayar pajak, masih harus membayar pula fasilitas yang seharusnya diberikan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Dokter, guru, PNS, polisi sudah digaji melalui negara, instansi dan institusi sudah diatur anggaran yang akan diterima, tapi untuk hal melayani rakyat saja, rakyat masih harus membayar lagi.

Menjadi wakil rakyat harus dilandasi sifat ikhlas, jangan memaksakan diri untuk dipilih, asu tenan…ngisin-isini, njaluk dipilih nganti cangkeme mumpluk, gambar ngregedi dalan, bar dadi prengesan ngitung, numpuk duit sabetane.

Menjadi wakil rakyat membutuhkan kompentensi yang komplit dan calon wakil rakyat yang masuk daftar pilihan sudah seharusnya orang yang tinggal memenuhi kebutuhan akhir self actualization, ingin mengaktualisasikan dirinya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain setidaknya untuk menggapai keridhaan Yang Kuasa. Apalagi sebelum menjabat amanah ini, kalian disumpah atas nama Tuhan kalian untuk melakukan pekerjaan dengan jujur. Alangkah baiknya kalau pernyataan sumpah yang bersifat protokoler saat pelantikan, benar-benar dibuat dan dibaca secara detail mengenai hal yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan seorang wakil rakyat.

Kalau wakil rakyat masih pada tingkat mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya sendiri, hancuurrr deh ! Silau dengan harta, gemetar tergoda ajakan buat konspirasi, kolusi, korupsi. Kalau memang masih kurang itu harta yang dikumpulkan, masih kurang itu gaji dan fasilitas yang diberikan rakyat, jangan jadi wakil rakyat, jadi saja pengusaha yang mau melakukan apa saja untuk menambah pundi-pundi kekayaannya, supaya bisa tercatat dalam daftar orang terkaya di Indonesia, di Asia Tengara, di Asia ataupun di dunia. Pekerjaan wakil rakyat paling hanya duduk, mengantuk atau tidur saat rapat membahas permasalahan yang sepotong-potong makanya saya istilahkan dalam bahasa Indoglish adalah “parasit” dengan “para” yang artinya orang banyak dan “sit” yang artinya  rame-rame duduk atau duduk rame-rame. Atau malah lebih bagus “parashit” ya ?? Artinya tahu kan ?

Proses pengambilan keputusan yang kadang menyangkut kepentingan orang banyak cuma didasarkan atas metode suara terbanyak yan otomatis masih menyisakan kekurangan yang banyak atas manfaat keputusan yang telah diambil. Pekerjaannya hanya membuat aturan atau undang-undang yang tidak terintegrasi secara menyeluruh untuk jangka waktu panjang, perihal-perihal kecil tak penting yang seolah sangat urgent sampai beradu pendapat untuk menghasilkan pepesan kosong yang tidak ada isinya sama sekali. Jangan hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada, carilah permasalahan, galilah pertanyaan sebanyaknya dan cari solusi atau jawabannya. Jangan hanya menjawab pertanyaan yang ada di lembar soal saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s