SOPIR/DRIVER

Sebenarnya sopir ini lebih tepat disebut sebagai suatu aktivitas yang bisa dilakukan siapa saja dan tidak melulu suatu profesi yang dijalani sebagian orang.

Tapi memang yang sering ditemui adala pengemudi angkutan umum yang ugal-ugalan dalam mengendarai mobilnya, selah tidak ada aturan berlalu-lintas yang dibuat untuk menjaga keselamatan diri, penumpang dan orang lain sesama pengguna jalan. Hal ini tidaklah mengherankan mengingat kondisi psikologis rata-rata masyarakat Indonesia yang mau menangnya sendiri, mau enaknya sendiri, mendahulukan kepentingan dirinya sendiri tanpa menyadari kemungkinan bahwa kepentingan orang lain lebih besar atau kepentingan dirinya sendiri sebenarnya tidaklah seberapa dibandingkan kepentingan orang lain. Perilaku buruk pemakai jalan sebenarnya tidak hanya didominasi pengendara mobil. Pengendara motor roda dua, pejalan kaki juga sering menyebabkab pandangan mata yang tidak sedap ketika kita berada di rimba yang bernama jalanan, di mana hukum rimba juga berlaku. Mengendarai mobil sambil sibuk menerima telpon, mengendarai motor oleng kanan kiri gara-gara sibuk membalas sms yang tidak telal penting. Apa salahnya, apa susahnya, apa ruginya berhenti sejenak di pinggir jalan untuk menerima telpon atau sms, dibandingkan resiko maut yang mengintai setiap saat. Jarak kematian sedemikian dekatnya.

Ada cerita tentang seorang anak sekolah yang sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dengan mengendarai motor memakai helm yang tidak standar, dia sibuk memencet tombol keypad handphonenya untuk merespon balik sms yang masuk dari kawannya. Tanpa disadarinya, karena konsentrasi yang terpecah, fokus yang bercabang ditambah dengan kecerdasan terhadap lingkungan sekitar yang kurang, ada sebongkah batu besar di depan jalannya yang terlambat dia sadari telah berada di tepat di depan ban depannya, membuat motor dan pengendaranya jatuh terpelanting sehinga dia terlempar dan kepalanya membentur pinggir trotoar menyebabkab dia harus menjalani operasi tempurung kepala karena ada penyumbatan darah di aliran supplier otaknya, mengeluarkan banyak biaya , membuang banyak waktu untuk pemulihan memori otaknya, membuat dia kembali seperti anak kecil yang perlu di didik ulang mengenai setiap hal yang pernah dengan mudah dia lakukan sebelumnya.  

Fenomena lain yang sangat menjengkelkan adalah membunyikan klakson sesaat sebelum lampu hijau menyala, seolah-olah mengingatkan pengendara di depan bahwa lampu sudah memperbolehkan pengendara bagian depan menerobos traffic light. Sopir yang sok penting, seolah selalu tergesa-gesa, harus on time sampai di tempat tujuan, sedangkan dia sendiri berangkat dari rumah ke tempat tujuannya mengulur-ulur waktu, mepet dan setelah sampai di tempat tujuan, kantor, ternyata tidak ada pekerjaan berarti dan penting yang siap menunggunya. Di jalanan, bagaimanapun berhati-hatinya anda, resiko mengalami kecelakaan karena keteledoran orang lain tetaplah besar. Ilustrasi yang bisa digambarkan adalah seperti cerita tentang orang buta yang berjalan di malam hari dengan membawa lampu penerang. Si buta diejek orang di sekitarnya, mereka berkata,” Hai, buta ! Buat apa kamu membawa lampu penerang ? Kamu kan tidak bisa melihat ? Mendingan kamu bawa monyet ! Buat apa kamu membebani diri sendiri dengan hal yang tak perlu ?”. Si buta (dari goa hantu) pun menjawab,” Justru inilah cara bagaimana aku beusaha menyelamatkan diri, dengan membawa lampu penerang, aku berharap agar orang bisa melihat keberadaanku sehingga mereka tidak akan menabrakku”.

Etika berkendara yang baik, perlu dibudidayakan untuk membiasakan pemakai jalan peduli terhadap keselamatan sendiri dan keselamatan orang lain. Kepedulian dan kecerdasan terhadap situasi dan kondisi lingkungan sekitarnya harus ditingkatkan.

Lebih kentara lagi pada saat traffic light mati karena padamnya arus listrik, lalu lintas menjadi semrawut, tidak adanya etika yang pasti membuat semua orang merasa tidak melanggar aturan dengan berjalan seenaknya dan merasa dialah yang berhak terlebih dahulu untuk lewat. Saya pernah mendengar cerita bahwa suatu ketika di Singapura, ketika kejadian yang sama terjadi, pengendara mobil dengan kesadaran bersama menerapkan cara yang sangat bagus, kendaraan berjalan bergantian sejumlah masing-masing lima buah untuk tiap ruas jalan yang ada searah jarum jam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s