POLISI

Untuk bisa menjadi seorang polisi saja sudah rahasia umum, harus memakai sejumlah uang agar lolos proses rekruitmen yang penuh korupsi, kolusi, uang suap yang beredar sedemikian besarnya sehingga polisi dari jabatan terendah hingga jenderal pasti dapat upeti. Bapak sang kandidat harus menjual sapi, kerbau, sawah, menjual diri kepada jin. Dari asal yang baik akan membuahkan hasil yang baik, dari asal yang buruk akan menghasilkan produk yang rusak. Lalat yang jorok penyebar bibit penyakit, berasal dari telur yang ditanamkan induknya dalam buah-buah yang busuk. Lihat saja, tiap kali ada lalat atau segerombolan lalat, yang dikerumuni pastilah kotoran, atau kalaupun makanan, mereka pasti menyebarkan bibit penyakit dari kakinya. Lalu segerombolan lalat yang tidak sedap dipandang mata itu akan diusir oleh rangkaian sapu lidi yang dihempaskan ”seseorang” sampai lalat pergi atau akan lebih baik lagi kalau sampai mati.

Setelah menjadi polisi, pekerjaan nggak jelas, perempatan ditongkrongin, mau apa ?

O..ya jadi ingat kalau di persimpangan jalan di Indonesia pasti ada yang mengamen dan mengemis, cuma ada yang beda, ada yang sepanjang hari kepanasan, ada yang tidak pakai seragam ada yang terlihat gagah dengan dipakaiin seragam, ada yang dibikinkan pos dengan corak cat hitam putih bergaris dan ditulisi POLISI, di dalamnya ada tv, kursi, dispenser dan lain-lain

Emang nggak ada pekerjaan melayani masyarakat yang lain apa ? Tiap malam keluar patroli pakai kendaraan operasional yang dibeli dengan uang negara, uang bensin dari negara, itupun sudah tidak sesuai takaran yang dibeli dengan uang yang diminta, mereka dengan rutin mengambil upeti dari tiap jalan, mampir ke tempat/warung yang berjualan minuman keras, tukang parkir binaan, copet binaan, pelacuran binaan, tempat judi binaan, kafe binaan, sopir truk yang kesasar untuk meminta jatah, menengadahkan tangan, mengemis, nggak ada bedanya dengan tukang peras, kompas, tukang palak di pasar dan begitu yang punya warung sudah keberatan bayar upeti karena penjualan seret, besok malam kena gerebek deh itu warung, diambil semua barang dagangannya. Silakan tanya, dengan catatan jawab dengan jujur, ”Apakah Pak Pulisi punya SIM ?”, nggak ada itu polisi punya SIM, saya juga sempat berfikir kalau pak jenderal itu pasti nggak punya SIM, perasaan nggak pernah ada seorang jenderal memperpanjang SIM nya di bagian Lantas kalau sudah habis masa berlakunya ! Apalagi kasatlantasnya ya ? Apalagi saya ya ? Gimana pak? Punya SIM yang masih berlaku nggak ? Emang Pulisi bukan warganegara yang juga harus patuh pada hukum NKRI apa?? Jangan karena kalian, teman kalian yang menegakkan hukum, kalian bisa seenaknya menjalani aturan dengan seenaknya!! Kasus kriminal, sosial diselesaikan cuma satu-satu, tanpa adanya kecerdasan menyelesaikan suatu masalah secara global, pandangan jauh dari atas sehingga bisa terpola solusi sebagai tindakan pencegahan, penindakan akan terjadinya suatu masalah. Kalau pikiran sudah tertekan, nggak ada jalan lain selain pakai teori pemaksaan, intimidasi agar prestasi seolah selalu bagus, pekerjaan selalu selesai, sukses, nama busuk (eh…nama baik ) korps selalu terjaga, orang yang nggak nyopet dipaksa ngaku jadi copet, orang yang nggak mbunuh dipaksa ngaku mbunuh yang penting kasus selesai, kalau mentok ya di 86 kan saja, masuk peti es, bikin pengalihan publik ke masalah lain agar masyarakat segera melupakan dari ingatan kasus yang tidak pernah selesai, lupa dari ingatan mungkin tapi di hati tetap melekat menimbulkan rasa benci, muak, sedih, prihatin, kasihan dan bahkan mungkin rasa dendam. Setelah kasus dianggap selesai, dapat pemasukan, kawan-kawan bisa lega, tertawa, pesta kesuksesan dengan minum-minum, nyabu, ”jajan” di kafe, dan itupun tanpa harus bayar ke pemilik kafenya ( ingat anak istri di rumah pak, kasih makan itu yang baik-baik, ya baik gizinya ya baik sumbernya, tempe yang dibeli dari gaji bulanan dengan cara benar lebih baik, daripada daging yang dibeli dengan uang suap, uang sogok, uang tutup mulut, kalau sampai anda ngasih makan keluarga pakai uang sogok, sama saja anda menyogok perut anak istri anda pakai besi racun, itu baru di dunia, belum di akhirat !! ).

Suatu prestasi bukanlah hanya berhasil menegah hasil kejahatan, menyita narkoba yang beredar, menggerebek pabrik narkoba, yang merupakan prestasi sebenarnya adalah pencegahan dan mengontrol jangan sampai orang sempat memproduksinya atau kalau bisa malah jangan sampai ada orang yang sampai berniat membuat dan mengedarkan narkoba. Kalau kepolisian berhasil menyita atau menggerebek produk dan produsen narkoba jangan malah bangga pak ! Justru seharusnya malah malu, kok bisa sampai sebanyak dan sebesar itu bisa terlewat dari intelejen dan pengawasan. Jadi tanda tanya nih !

Belum lagi kelakuan para indomie telurnya, nangkap maling, copet, preman, bukannya diproses hukum untuk di bawa ke pengadilan, tapi malah ditawarin damai di kantor dengan syarat memberikan ”uang jaminan” agar berkas perkara, berita acara pengadilan   nggak sampai ke pengadilan, urusan biar sampai di sini saja, atau kata manis lainnya. Polisi lalu lintas yang nongkrong menunggu mangsa yang berbuat kesalahan, anak sekolah ditakut-takuti akan ditilang, repotlah, banyak waktu terbuanglah, mendingan di sidang di tempat saja, lebih singkat dan cepat, tanpa kuitansi. Kalau memang warganegara melanggar hukum, ditindak tegas sesuai prosedur yang seharusnya dong pak !!!!

Masyarakat jadi alergi terhadap polah ”semua” polisi di wilayah hukum Indonesia, ada masalah mendingan nggak ngasih tahu polisi, urusan bisa panjang. Orang lapor biar jadi mudah, ini malah jadi sulit. Laporan juga jarang direspon secara seragam tanpa pertimbangan ada duit atau nggaknya. Mendingan dikasih tugas jaga parkir di acara pernikahan, dapat amplop, daripada nyebrangin anak sekolah tiap pagi, nggak ada tambahan. Kalian kan udah digaji, kerja yang bener dong, emang mau cari tambahan lagi?? Nggak masalah cari tambahan, tapi jangan pakai seragam polisi, jangan pakai identitas polisi, jangan menyalahgunakan jabatan polisi, jangan pakai waktu kerja. Kalau mau jadi maling, garong, rampok sekalianpun silakan !! Tapi sekali lagi jangan pakai jabatan polisi kalian. Saya malah lebih respek dengan rampok yang beneran, Jhony Indo, Kusni Kasdut, Slamet Gundul, merampok harta orang kaya yang nggak sempat menikmati kekayaannya tanpa memanfaatkan topeng kebaikan serigala berbulu domba.

Wacana saja ini tulisan pak ! Saya jangan ditangkap, dituduh pencemaran nama institusi, ini cuma sarana saya mengingatkan agar anda tidak terjerumus dan terlena lebih dalam. Seperti cerita ada dua katak, yang satu dimasukkan dalan panci berair dingin lalu dimasak diatas api, sang katak merasakan perubahan panas sedikit demi sedikit, dari dingin, hangat, panas sampai dia sadari dia telah matang, mati jadi kodok rebus. Katak kedua dimasukkan dalam air yang sudah sedikit panas, dia langsung melompat menyelamatkan diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s