DOKTER

Siapa sih yang mampu membiayai kuliah kedokteran dengan berbagai macam praktikum yang membutuhkan banyak biaya kalau bukan orang yang mampu dan kaya ?

Sepertinya sudah jelas tujuan seseorang yang ingin menekuni dunia kedokteran, mereka sebagian buesar pasti ingin mengikuti jejak dan persepsi hidup mapan dan berpenghasilan tinggi profesi dokter seperti layaknya tetangga, saudara, cerita sinetron yang mereka temui dalam kehidupan kesehariannya.

Sekali lagi maaf, bukannya saya orang yang sinis terhadap profesi ini, judulnya juga sisi buruk profesi.

Beberapa hal yang mengganggu pikiran saya tentang profesi dokter seperti kemampuan yang text book tanpa dilandasi pemikiran kreatif dan terbuka oleh sebagian besar dokter sebagi profesi di Indonesia, diagnosis yang standar tanpa dilandasi rekam medis pasien dalam jangka waktu sebelum pasien datang ke tempat praktek ( jangan salahkan pasien yang berganti dokter pribadinya, karena kondisi mobilitas masyarakat, kondisi ekonomi, sebaiknya pikirkan melalui ikatan profesi yang ada bagaimana menciptakan suatu sistem yang terintegrasi secara lokal maupun global terhadap rekam medis masyarakat ), pasien diberi obat yang standar text book juga, bahkan kadang demi kepentingan materi, dokter rela bekerjasama dengan produsen obat dan lebih berfungsi sebagai ujung tombak pemasaran obat-obatan dengan mengorbankan ketidaktahuan/ kebodohan masyarakat. Dokter juga terkadang tidak memberitahukan yang sesungguhnya kondisi pasien yang seharusnya seratus persen berhak mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Menjelaskan secara ilmiah kondisi pasien rasanya tidak sulit, tergantung bagaimana memberikan gambaran yang mudah diterima disesuaikan dengan tingkat pemahaman pasien. Kalau orang lain tidak bisa menerima penjelasan anda, jangan selalu salahkan lawan bicara anda, bercerminlah untuk melihat kelemahan anda dalam memberikan penjelasan.

Dokter bekerja di dalam batasan profesi yang sama dengan profesi lain yang ada, yaitu mencari atau memenuhi kebutuhan hidup, terkadang melupakan fungsi moral dan sosialnya. Dokter melalui intitusi rumah sakit, poliklinik melakukan proses pengobatan yang pilih kasih, administrasi yang berbelit dilandasi investigasi tingkat perekonomian pasien bahkan untuk yang bersifat gawat darurat.

Memang benar para dokter ini telah mengeluarkan banyak biaya untuk menyelesaikan pendidikannya, tapi apakah itu semua anda anggap modal yang dikeluarkan dan harus memberi keuntungan materi di kemudian hari ? Semua tentang bisnis, kesehatan adalah bisnis, pendidikan adalah bisnis, it’s all about business !

Dokter yang baik justru yang berpikir bahwa obat kimia adalah racun yang bakal diserap tubuh, menyembuhkan penyakit satu, menimbulkan turunnya daya kekebalan tubuh terhadap faktor lainnya. Dokter yang baik adalah yang berfikir secara keseluruhan akan dampak obat yang diberikan terhadap kemungkinan timbulnya masalah lain pada tubuh manusia. Sistem dalam tubuh manusia sendiri sebetulnya sudah memiliki cara untuk memproteksi terhadap anomali yang terjadi pada tubuhnya.

Dokter yang baik jangan marah kalau ada pasien menanyakan fungsi obat atau reaksinya apabila diminum atau tidak diminum. Pasien adalah justru yang paling berhak tahu permasalahan dan solusi yang akan diberikan dikemukakan dalam suatu persepsi level yang sama, jangan menganggap kalau dokter lebih tinggi derajatnya, lebih pintar, lebih mulia, lebih kaya. Kalau perlu rendahkan level dokter sehingga posisi pasien menjadi lebih tinggi derajatnya ( ya…iyalah, yang keluar duit kan pasien !! ). Kalau nggak perlu diberi obat ya…jangan dipaksakan memasarkan obat pesanan produsen farmasi. Obat juga standar dan sama. Pernah ada orang bilang kalau kita sakit apaun itu, pergi ke dokter atau poliklinik apalagi poliklinik pabrik dan kantor pasti obatnya itu-itu saja.

Salut terhadap dokter-dokter yang rela meninggalkan sumber nafkahnya, resiko dipecat demi memastikan keberangkatannya di daerah bencana, seperti saat tsunami di Aceh, bencana perang dan lain-lain.

Untuk dokters di Indonesia jangan lupa nonton film serial baru tentang dunia kedokteran di salah satu stasiun tv ( lupa stasiun dan judul serialnya), saya juga baru menonton sekali tapi bisa membaca bahwa ini dia seharusnya seorang dokter bekerja, penuh dedikasi, tuntas, komplit cara pandangnya, cerdas. Pertanggung jawaban semua yang telah kita dilakukan di dunia ini pada akhirnya akan diminta.

Sedikit tambahan, ketika kemarin pulang ke rumah di Wonosobo, secara tidak sengaja saya mebaca berita di harian Suara Merdeka tentang pengukhan seorang dokter menjadi Guru Besar di Fak. Kedokteran UNS yang membuat penelitian/tesis atau apalah itu tentang posisi seorang dokter yang sebaiknya sederajat dengan seorang pasien akan mempermudah proses penyembuhan sakit sang pasien, peran dokter yang bersifat paternalistik harus dihilangkan. Yang sakit kan pasien, bukan dokter, jadi yang lebih berhak untuk memilih jalan penyembuhan adalah pasien dan bahkan sebenarnya sang pasienlah yang lebih tahu apa yang dideritanya dan bagaimana dia bisa memilih beberapa pilihan versi ahli medis, yang dirasa lebih baik bagi dirinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s