Hikmah-hikmah

Main bin Aus

“…tidaklah sebuah musibah menmpaku pada suatu masa kecuali musibah itu pasti juga pernah menimpa orang lain selainku.”

” Seseorang diuji sesuai dengan imannya. Jika imannya tebal, ujiannya pun sangat berat. Jika imannya tipis, dia diuji berdasarkan tingkat keimanannya. Ujian akan terus menimpa hamba hingga Allah membiarkannya berjalan di atas muka bumi ini tanpa dosa.” (HR. Tirmidzi).

MANAJEMEN TAWAZUN DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

Muhammad bin hasan bin ‘Aqil Musa

” Sesungguhnya banyak bicara tanpa ada manfaatnya dapat menghalangimu dari mengingat Allah, menunaikan shalat dan bersilaturahmi. Maka kapankah engkau akan berhenti darinya (banyak bicara). Oleh karena itu, kita perlu mengimbanginya dengan banyak membaca buku-buku pelunak hati, motivasi beribadah dan buku-buku yang mendorong kita berbuat zuhud.”

Ibrahim bin Adham berkata :

” Hamba yang menyukai kemasyuran adalah jika ia tidak ikhlas dalam amalnya.”

Abu Darda’

” Aku berlindung kepada Allah dari terpecahnya hati.” Dikatakan kepadanya, apa maksud terpecahnya hati ? Ia berkata, maksudnya adalah, jika di setiap arah atau sudut aku diberi kesempatan mendapatkan harta.

Ibnu Jauzi ra berkata,

” Sebab-sebab kesempurnaan pertama adalah persesuaiannya antara anggota-anggota dan badan serta potret batin yang baik. Potret fisik disebut ‘khalqun’, sedangkan potret batin disebut ‘khuluq’. Indikasi baiknya potret fisik adalah baiknya zahir dan beradab. Sementara, indikasi potret pribadi yang sempurna adalah memiliki tabiat dan moral yang baik. Termasuk kelompok tabiat adalah sifat iffah ‘ menjaga diri dari perbuatan dosa ‘ dan Annazabah ‘ bersih dari hal-hal yang dibenci ‘ terhindar dari kebosohan dan menjauhi sifat rakus.

TIDAK MENCAMPURADUKKAN ANTARA ANGAN-ANGAN DAN KENYATAAN

Impian-impian kemarin adalah kenyataan hari ini dan impian-impian hari ini adalah kenyataan esok hari.

Syaikh Yusuf Al- Qardhawy dalam bukunya Jiilun Nashril Mansyud, ia berkata,

” Generasi yang menang adalah generasi yang berpijak pada kenyataan, bukan angan-angan dan khayalan yang bohong atau impian-impian kosong. Ibaratnya, mereka berenang di udara dan terbang tanpa sayap. Generasi yang menang adalah sebuah generasi yang bercita-cita tinggi, namun berpijak pada kenyataan dan berpikir realistis. Mereka tidak menanam di atas air, tidak menabur benih diatas bebatuan, tidak merenda khayalan dan tidak pula membangun istana dari pasir.”

Wahab Ibnu Munabbih ra. Suatu saat ia didatangi seseorang seraya berkata kepadanya,

” Aku telah berbicara dengan diriku sendiri untuk tidak berbaur dengan manusia (‘uzlah). Ibnu Munabbih lalu berkata,” Jangan engkau lakukan itu, sebab engkau membutuhkan mereka dan mereka membutuhkan kehadiranmu di tengah-tengah mereka. Mereka membutuhkan darimu banyak hal, begitu pula sebaliknya. Namun sebaiknya, berbaurlah dengan mereka dengan mengambil sikap seakan engkau tuli, meskipun sebenarnya engkau mendengar dan seakan buta meskipun hakikatnya engkau melihat dan seakan engkau diam, meskipun sebenarnya engkau berbicara.”

Imam Humaidi ra, berkata,

” Tiada manfaat bertemu manusia kecuali adanya kemubaziran dalam Qila Wa Qala (berbicara yang tiada manfaat) minimkanlah pertemuanmu dengan mereka kecuali untuk urusan ilmu dan memperbaiki keadaan.”

TARBAWI 261003

Imam Syafi’i

Pada mulanya menuntut ilmu (agama) untuk menjadi kaya. ” Aku rasa kecerdasanku akan memberikanku kekayaan yang melimpah ,” kata beliau. ” Tapi,” katanya lagi,” Setelah aku mendapatkan ilmu ini, sadarlah aku bahwa ilmu ini tidak boleh dituntut untuk mendapatkan dunia. Ilmu ini hanya akan kita peroleh jika dituntut untuk kejayaan akhirat.”

Enam Hal Penutup Pintu Taufik Allah

1. Sibuk dengan nikmat dan lupa bersyukur

2. Kecintaan terhadap ilmu, tidak mengamalkannya

3. Cepat berbuat maksiat, dan lambat bertaubat

4. Bergaul dengan orang-orang saleh tetapi tidak meneladani mereka

5. Dunia meninggalkannya tetapi ia mengejarnya

6. Akhirat mendatanginya tetapi ia berpaling darinya

( Syaqiq bin Ibrahim, wafat : 194 H )

Hasan Al- Bashri

” Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri.

Ibnu Qayyim Miftahu Daarus Sa’adah

Tanda kebahagiaan dan kesengsaraan

Tanda kebahagiaan seorang hamba adalah menyembunyikan amal kebaikannya di belakang punggungnya dan meletakkan amal keburukannya di depan matanya. Sedang tanda kesengsaraan seorang hamba adalah ia meletakkan amal kebaikannya di depan matanya dan menyembunyikan keburukannya di belakang punggungnya.

ANDREAS HAREFA – MEMATAHKAN BELENGGU MOTIVASI

Bagaimana agar tidak mudah putus asa atas kesalahan dan kegagalan

1. Kita belum gagal, kecuali bila kita memutuskan untuk berhenti berusaha

2. Kita belum gagal jika masih ada hari esok yang memungkinkan kita untuk mencoba lagi

3. Kita belum gagal jika kita menerima kebelumberhasilan kita sebagai umpan balik (feedback) untuk memfokuskan usaha selanjutnya

4. Kita belum gagal, jika kebelumberhasilan kita anggap bagian dari pengalaman hidup untuk lebih bijak, beriman dan bertaqwa

5. Kita belum gagal bila kebelumberhasilan kita terima sebagai jalan yang memang harus dilalui untuk sampai pada suatu keberhasilan

6. Kita belum gagal, jika kita sadar bahwa tak ada yang abadi di dunia ini, kegagalan pun tidak

Wahyul Qolam 2/97 – TARBAWI

Saudaraku,

Menyebarkan kebenaran sudah pasti banyak resikonya. Bahkan resiko itulah yang kita tangkap dari perjuangan sirah Rasulullah, para nabi sebelumnya dan para salafushalih. Tapi semoga kita tak pernah lari dari medan ini, sebenarnya adalah menghindar dari medan kehidupan yang menguji dan meningkatkan kualitas iman dan kesabaran. Orang yang cenderung menyendiri, menghindar dari resiko menyebar kebenaran dan menyepi dari ragam pergulatan itu disinggung oleh Musthafa Shadiq ar-Rafi’i dalam ungkapannya,” Orang itu mengira telah lari dari kekotoran ( dari berbaur dengan banyak manusia ) kepada kemuliaan. Padahal sebenarnya, ia lari dan menghindar dari kemuliaan itu sendiri. Apa artinya menjaga diri dari kemaksiatan, memiliki sikap amanah, jujur, berbakti, ikhsan dan semua moral baik bila ia tinggal di tengah padang pasir atau di puncak gunung sendirian ? Apakah ada yang mengakui kejujuran sebagai akhlak mulia, kecuali pohon dan bebatuan ? Demi Allah, orang yang lari dari perang terhadap keburukan adalah orang yang melepas semua keutamaan….”

” Orang yang cerdas itu adalah orang yang mengendalikan dirinya dan mempersiapkan hidup setelah mati.”

Seorang mukmin memandang pilihan profesi dengan sikap setulus hati, tidak ada rasa risih, tidak ada rasa enggan, tidak sesederhana itu.

Bila profesi itu dilihat dari sudut jalan rezeki, maka profesi adalah pilihan untuk memakan yang halal atau haram. Bila dipandang dari sudut sosial, profesi adalah pilihan untuk memberi manfaat kepada sesama atau justru merusak sesama. Bila dipandang dari sudut fungsi, profesi adalah pilihan untuk berdaya guna maksimal atau minimal. Bila dilihat dari sudut akhirat, profesi adalah pilihan untuk mengantarkan dirinya ke surga atau neraka. Begitu seterusnya. Profesi adalah pilihan yang serius. Tak sekedar orang bisa makan atau tidak bisa makan.

” Pangkal segala maksiat, kelalaian dan syahwat adalah ridha terhadap nafsu. Sedangkan sumber ketaatan, kesadaran dan meninggalkan hal-hal yang dilarang, adalah tidak adanya keridhaan terhadap nafsu.”

310805

” Kecerdasan berawal dari fokusnya pikiran.”

261103

MENJADI KEKASIH TUHAN

Sayyid Abdul Wahab Asy- Sya’rani

MITRA PUSTAKA, Mei 2001

Sesungguhnya ibadah yang benar adalah melakukan amal perbuatan semata-mata hanya untuk memenuhi perintah dan hak-hak Allah SWT

Fudail ibn Iyadh :

” Meninggalkan amal karena manusia adalah riya’, dan melakukan amal karena manusia adalah syirik. Apa yang dinamakan ikhlas adalah kamu menjaga dari keduanya.”

Sebaik-baik shalat adalah shalat di rumah, kecuali shalat fardhu.

” Orang yang malu kepada Allah adalah orang yang menjaga kepala dan apa yang ada di dalamnya (pikiran-pikiran dan khayalan yang tidak benar), menjaga perut dan apa yang ada di dalamnya (makanan yang tidak halal), dan senantiasa ingat mati dan kebinasaan. Siapa yang menginginkan akhirat hendaknya meninggalkan pengaruh kehidupan dunia. Siapa yang bisa demikian, berarti benar-benar malu kepada Allah.

Fudail mengatakan :

” Tanda-tanda orang celaka ada 5 (lima) : keras hatinya (tidak mau menerima nasehat), beku matanya (tidak mau melihat kebenaran), sedikit rasa malunya, cinta kemewahan dunia, dan panjang angan-angan.”

Sedang as- Sariy meyatakan,” Rasa malu dan puas (qanaah) bisa menudukkan (melunakkan hati). Bila keduanya masuk ke dalam hati, dan di sana ada sifat zuhud dan wara, maka hati akan tenang dan tenteram. Sebaliknya, bila di sana tidak ditemukan zuhud dan wara, rasa malu dan puas akan menyingkir. Tanda-tanda orang yang malu kepada Allah tidak akan menjerumuskan diri ke dalam perbuatan dosa dan maksiat.”

” Orang yang tidak mempunyai tata krama, berarti tidak mempunyai agama, tidak mempunyai iman, dan tidak mempunyai tauhid.”

TARBAWI 74 – DES 2003

EMPAT HAL UNTUK MENJAGA TAUBAT

Perbuatan orang yang bertaubat ada empat :

1. Menjaga lidahnya dari ghibah, dusta dan hasad dan kesia-siaan

2. Menjauhi teman jahat

3. Ketika dosa disebut di hadapannya, dia malu kepada Allah

4. Mempersiapkan diri untuk kematian

Tanda kesiapan itu adalah dia tidak pernah merasa tidak ridho kepada Allah dalam keadaan apapun ( Hatim Al- Ashom)

SAKSI No. 6 Th VI, 14 Januari 2004

Ulama salaf : Ibnu Athaillah as- Sakandari :

” Janganlah membuatmu putus asa dalam mengulang-ulang doa, ketika Allah menunda ijabah doa itu. Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihanNya padamu, bukan menurut pilihan seleramu. Kelak pada waktu yang dikehendakiNya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.”

Sabda Rasulullah :

” Tak seorangpun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari kelompok ini : kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda (pengabulannya) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya.” ( HR. Imam Ahmad dan Al-Hakim )

ISLAM ABAD 21 ( Refleksi Abad 20 dan Agenda Masa depan )

Dr. Yusuf Al-Qaradhawi

” Tak akan kembali apa yang telah lewat dariku dengan andaikata dan andai aku.”

Kekuatan maknawi : agama, akhlak, cara berfikir, ilmu pengetahuan dan makna-makna kemanusiaan yang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s