PUNGLI ASU TENAN

Berita di TV ada seorang istri ingin membesuk suaminya di lapas katanya untuk administrasi, uang buka kunci… diperas petugas yang katanya alat negara untuk melayani masyarakat. ASU TENAN ! Namanya saja lembaga pemasyarakatan, pengelolanya juga perlu dimsyarakatkan !

Mau lewat jembatan timbang, padahal sudah yakin tonase tidak melebihi standar kemampuan jalan raya yang dilewati, petugas timbang seolah yakin, semua kendaraan yang ditimbang, kernetnya wajib lapor memberi amplop sebagai uang jaga petugas dishub. ASU TENAN ! Namanya jembatan timbang untuk mengontrol agar kendaraan yang bermuatan melebihi batas tonase harus membayar biaya kelebihan sebagai biaya pertanggungjawaban pemakaian dan perawatan jalan karena beban yang berlebihan. Dan uang denda seharusnya masuk kas negara ! Bukan masuk kantong yang akan menjadi tambahan beban dosa kalian di timbangan akhirat kelak. Mana kondisi packing truk yang tidak mempedulikan keselamatan diri dan pemakai jalan lainnya juga tidak ditegur lagi ! Apalagi diperingatkan, apalagi dihukum ! Asal ada uang diam…diamlah mereka.

Razia motor dan kendaraan, lupa bawa SIM, STNK, perlengkapan tidak standar, parkir sembarangan. Beri saja surat tilang, harus bayar ke negara melalui sistem yang standar tanpa toleransi, kalau menyalahi aturan di blacklist kesempatannya memakai jalan raya, tidak boleh memakai kendaraan bermotor di jalan raya selama beberapa tahun atau dihukum kerja sosial mengecat marka jalan yang selalu tipis atau kosong sepanjang 7 kilometer. Ini malah nggak,…bisa damai kok Pak ! Bisa dinego kok Pak ! Bisa titip kok Pak ! Siapa sih bangsat,..eh aparat lintah penyedot darah rakyat ini ??

Pajak usaha bernama Pajak Retribusi Daerah, petugasnya sebenarnya sudah tahu (paling nggak bosnya) kalau pedagang kakilima pasti berjualan di tempat yang tidak diperbolehkan menurut peraturan daerah. Tapi tiap hari dipungut retribusi yang katanya menambah kas daerah. Pemberlakuan pungutan retribusi berarti pengakuan pemerintah daerah akan keberadaan pedagang di suatu tempat dan itu menjadi legal, selama tempat mereka berdagang yang semakin lama semakin ramai belum digusur. Begitu sudah diperlukan keberadaannya karena akan didirikan mal, supermarket, arena hiburan, nafkah mereka direbut untuk kepentingan bisnis dan kemakmuran segelintir orang. Sudah diperas habis dibunuh pula. Jangankan pedagang kakilima, pedagang pasar saja bisa diusir, kalau perlu pasar tradisional dibakar dulu lewat alasan kompor lupa dimatikan atau hubungan pendek arus listrik atau hubungan baik segelintir pengusaha kotor dengan aparat asu. Jangankan lagi pasar tradisional, sekolah saja bisa digusur untuk kepentingan perjanjian busuk pengusaha dengan pemerintah. Ini namanya standar ganda pemerintah daerah, habis manis sepah dibuang. Opo jan oran ASU, CELENG tenan nek ngono ? Mana sekarang traktor tangan untuk mengolah sawah petani juga mau dipungut pajak oleh mereka !!

Perpanjangan SIM, STNK, KTP, Surat Birokrasi lainnya, semua dikenai pungli dengan ucapan biaya seikhlasnya, tanpa diberi tanda terima dan tanpa biaya pasti atas proses yang dilakukan. Memangnya biro jasa apa ? pakai biaya segala, pegawai itu hanya menjalankan tugas dan kerjanya saja sudah cukup, nggak usah cari sampingan. Lagian masyarakat melakukan perpanjangan surat atau apapun itu kan untuk kepentingan lain juga yang bisa menggerakkan jalannya pemerintahan, misalnya untuk bayar pajak kendaraan, untuk bekerja sehingga pemerintah bisa memungut PPN, pajak bumi dan bangunan, pajak penerangan, bayar air, bayar listrik, bayar sampah, pajak banyak banget di Indonesia yang kaya raya ini ya ? Ibarat pedagang, rakyat Indonesia disuruh membeli barang dagangannya sendiri dengan harga yang paling tinggi !!!

Sopir dan awak armada angkutan barang yang dipekerjakan perusahaan dan setiap saat harus memindahkan barang dagangan dari stu tempat ke tempat lainnya, dari satu kota ke kota lain, dari satu propinsi ke propinsi lain. Tiap kali harus melewati perempatan yang ada pos bertuliskan polisi, sang kondektur harus naik turun untuk memberikan salam tempel kepada petugas berseragam kayak pramuka yang jaga yang matanya jelalatan mengawasi truk-truk yang lewat jalan sambil pura-pura berwibawa di mata masyarakat. Enak ya pak, sudah digaji negara, tinggal duduk di pos, dapat sampingan lagi !

Buat aparat negara yang berhubungan dengan pungutan pajak, berhati-hatilah !

Kerja sesuai aturan saja kadang anda sekalian sudah berada di daerah rawan, apalagi yang tidak sesuai aturan.

Kami mohon dan harap, uang tersebut jangan dipakai untuk menafkahi keluarga pak, sayang dan kasihani anak dan istri di rumah, jangan diberi racun yang akan membuat sesal bahkan sampai mati kelak. Sebagai kepala rumah tangga seharusnya bisa melindungi dan mengangkat keluarga, jangan malah menjerumuskan keluarga.

Apabila ada kata-kata yang berkenan mohon maaf, tetapi apabila ada kata-kata yang kurang berkenan harap maklum saja dan kami tidak akan minta maaf, karena memang semua rangkaian kata di atas tidak berkenan semua, telinga dan hati kami sendiripun panas membacanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s