POLISI LAGI POLISI LAGI, LAGI-LAGI POLISI

Suatu malam nggak sengaja lagi zapping siaran tv swasta, ketemu acara tv yang sedang disiarkan yang namanya Jalur 259 Kompolnas ( ternyata di lain waktu baru aku ketahui di stasiun tv one hari jumat 22.00 ). Acara menarik nih, untuk memperbaiki nggak hanya citra polisi tapi juga karya polisi Indonesia dalam hal yang baik maupun yang buruk-buruk. Banyak kasus ”kriminal” yang dilakukan oleh aparat polisi sendiri, bukan oknum, tapi benar-benar polisi…Bad cop bad cop. Tiap kasus yang terjadi terkadang dan sering tidak ada tindak lanjut penyelesaian yang adil dan samarata ataupun kalau ada, penyelesaian yang dilakukan sifatnya sepihak melalui intimidasi atau teror oleh pelaku kepada korban dan keluarganya, memanfaatkan wewenang tak terbatas anggota Polri apalagi yang posisinya mulai perwira ke atas. Perwira kacangan didikan Akpol yang lebih mengutamakan kulitnya saja, didikan dibuat eksklusif, otaknya dicuci supaya merasa jadi orang terhormat dan eksklusif berada di atas siapapun di negara ini. Kopet !!!!!!!!!!!!! Ada kalimat menarik dari narasumber waktu acara itu, yang intinya mengemukakan bahwa tugas polisi itu meliputi tiga hal ialah, tindakan pencegahan, pembinaan dan penindakan. Dari rangkaian kata di atas, aku jadi berpikir bahwa polisi ternyata baru melakukan pekerjaan yang terakhir, yang pamungkas, yang ringan dan yang paling cepat terlihat keberhasilannya dari sisi pemasukan uang negara ( kalau nggak di korupt ) dan dari sisi pengakuan prestasi. Polisi hanya baru melakukan pekerjaan-pekerjaan penindakan terhadap lingkup tugasnya untuk melindungi dan melayani masyarakat. Tindakan pencegahan dan pembinaan hanya dilakukan secara seremonial, sporadis menyesuaikan tuntutan yang dirasa mendesak, itupun dalam skala kecil yang tidak terkoordinasi secara nasional dan tidak pula secara berkesinambungan. Lihat saja, betapa gagahnya mereka, betapa tangkas dan berdedikasinya mereka ketika hujan deras turun, mengatur lalu lintas, membuat lampu ”bangjo” kehilangan fungsinya, padahal mereka sendiri yang bikin peraturan, ketika presiden melakukan kunjungan ke suatu daerah dan guna kelancaran jalannya konvoi rombongan presiden yang memiliki tugas dan pekerjaan penting makan malam dengan para koleganya lalu lintas dan hak masyarakat ”dikorbankan”. Pekerjaan sebagai seorang polisi sebagai pelindung sebenarnya sangat mulia, tapi karena rusaknya sistem turun temurun yang berlangsung secara akumulatif menyebabkan pekerjaan ini menjadi semacam kanker ganas yang menggerogoti tubuh yang sudah sakit, semacam pagar yang makan tanaman, semacam pekerjaan yang (maaf) melacurkan diri, menjual harga dirinya demi kepentingan nafsu ingin kaya dan nafsu ingin dianggap sukses dibandingkan orang lain ( dengan asumsi sukses adalah hidup mewah atau sangat berkecukupan ). Hal ini menyebabkan pandangan miring terhadap profesi polisi yang seharusnya mulia, yang seharusnya tugas pengabdian yang sangat dihargai masyarakat. Pak polisi ! Seragamnya diganti dong warnanya ! Sudah kelihatan serem, berkarat, kusam, dicucipun nggak hilang nodanya ! Mendingan diganti warnanya saja ! Untuk menciptakan polisi paradigma baru, semuanya harus diubah ! Sepengetahuan saya, razia SIM, STNK yang rutin dilakukan di jalan raya hanya di Indonesia, inipun bukan dalam level kerja pencegahan atau pembinaan juga, pemakai jalan dan kendaraan langsung ditindak dengan denda. Apakah nggak lebih baik kalau polisi itu kerjanya patroli saja, sehingga begitu melihat ketidakberesan, melihat pelanggaran aturan hukum, melihat adanya kemungkinan akan terjadinya tindakan kejahatan, atau tindakan yang berpotensi membahayakan orang lain segera diketahui sedini mungkin untuk dicegah, kalau terjadi pelanggaran karena kurangnya informasi segera dibina. Jangan ditindak dulu kecuali telah melewati batas toleransi. Ada pepatah menyebutkan, lebih baik mencegah daripada mengobati, tetapi mencegah itu justru lebih susah dibandingkan dengan mengobati yang tentunya lebih mudah ( yang sulit itu sembuhnya ). Tindakan pencegahan memerlukan struktur dan infrastruktur yang handal, konsistensi pelaksanaan dengan fungsi tunggal mencegah, jika sampai terjadi kebocoran, pastilah ada penyebabnya. Fungsi pengobatan atau penindakan hampir sama, obat itu pahit dan bahkan bisa menjadi racun dan candu yang membuat sumber penyakit semakin kebal. Kesalahan mendasar yang berhubungan dengan aparat negara di Indonesia ini adalah bahwa aparat merupakan alat yang dipakai penguasa untuk mencapai tujuannya. Nah, apabila penguasa itu menyelewengkan fungsinya terhadap rakyat, fungsi aparat menjadi seperti anjing penjaga untuk melindungi tuannya, karena kesetiaan kepada tuannya yang baik itu salah ataupun benar, si anjing penjaga akan melakukan tindakan apapun untuk melindungi kepentingan tuannya selama dia juga mendapatkan kepastian bertahan hidup dari kerasnya kehidupan yang berasal dari tangan ( kotorpun ) tuannya. Masalah mendasar yang disebut di atas dapat dirangkum melalui suatu pernyataan bahwa penguasa bangsa ini sudah salah niat, tujuan, misi dan visinya dalam wewenangnya mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara yang mandiri dan bermartabat atas nama segenap rakyatnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s