BUDAYA KORUPSI DAN SOLUSINYA

 

Memprihatinkan, memalukan, tragis, apatis mengetahui betapa budaya korupsi sudah menjadi kebiasaan yang orang bahkan tidak berpikir sama sekali bahwa apa yang dilakukannya telah mengambil apa yang bukan haknya. Mengambil dan merampas uang, harta milik rakyat yang seharusnya dipergunakan untuk kesejahteraan rakyat yang telah mempercayakan sumber-sumber daya yang ada untuk dikelola agar bisa digunakan untuk kepentingan hajat hidup orang banyak. Semua orang melakukan korupsi entah disengaja atau tidak, entah disadari atau tidak. Hal ini memang tergantung persepsi individu, tapi aku yakin bahwa di dalam hati nurani orang yang merampas, menyunat, menampun sementara untuk diambil untungnya, mencicipi hak rakyat pasti ada pertentangan yang kalau mau mereka renungkan, mereka akan menyadari bahwa tindakannya itu laknat.

Korupsi tidak hanya dilakukan pejabat tinggi saja tapi sampai ke pegawai dengan pangkat dan golongan terkecil sekalipun. Sudah manmade budaya, tidak itu presiden, menteri, anggota DPR, Kapolri beserta jajarannya, Panglima TNI beserta staf dan jajarannya, gubernur, bupati, camat, kepala desa, satpol, pegawai golongan I A, pesuruh,…semuanya. Yang membedakan tingkatannya hanyalah porsi, jatah, kuantitas dan kualitas mereka semua dalam melakukan aktivitas korupsi.

Memangnya ada korupsi yang berkualitas ?

Tentu saja ada, apalagi di Indonesia, urusan kualitas harus nomer satu. Prestasi koruosi Indonesia nomer wahid, koruptor bisa melakukan penggerogotannya sejak beliau menjabat posisi rendah hingga saat posisi tinggi karena keberhasilannya yang katanya mengabdi kepada Negara, koruptor sudah terbiasa melihat ayahnya, ibunya, saudaranya, tetangganya korupsi sejak dia masih kecil, makanannya sejak kecil sudah diselipi hasil korupsi keluarga dan masyarakat lingkungan sekitarnya. Korupsi bisa diturunkan kepada anaknya, berkesinambungan dan berlangsung setiap saat sehingga definisi korupsi menjadi beragam, definisi bukan korupsi menjadi bervariatif sehingga persepsinya ikut pula manmade salah kaprah dalam kehidupan sehari-hari.

Kualitas korupsi di Indonesia nomer satu terbukti dengan tidak tersentuhnya mereka oleh hukum. KPK dibentuk sebagai alat untuk melindungi informasi korupsi agar ada negosiasi, agar semua bisa dapat giliran mematuk makanan, koruptor memiliki jiwa kebersamaan yang solid, agar semua bisa menggerogoti harta Negara bergantian bagaikan rayap dan tikus. KPK dibentuk oleh koruptor sebagai tameng agar transparansi tidak sampai kepada masyarakat umum. KPK seperti ikatan alumni yang diberi wewenang mengatur jadual, aturan main manipulasi dan mengingatkan para koruptor kapan harus waspada, kapan harus mengurangi aktivitasnya, kapan mulai lagi….

Solusi ?

Beri saya kuasa, beri saya data, beri saya senjata….saya rela ke neraka karena menghabisi nyawa mereka semua. Melakukan ini atau tidak, saya yang sekarang ini memang pasti akan melewati neraka terlebih dahulu.

Budaya korupsi bisa hilang melalui metode “missing link”

Yang saya maksud dengan metode ini adalah menghilangkan generasi saat ini yang telah berusia lebih dari 12 tahun, agar bibit-bibit manusia yang ada masih segar pikirannya untuk menyambut dan membentuk bangsa Indonesia Raya yang jaya, sejahtera, bermartabat dan memiliki harga diri dalam kemandirian. Metode inipun belum sepenuhnya aman, karena anak yang berusia 12 tahun ke bawah pun pasti sudah dicekoki, diberi contoh, dihadapkan pada persepsi yang dipakai generasi sebelumnya baik itu orang tuanya, saudaranya, lingkungannya, pemimpin di antara mereka. Dan lagi, semakin berkurang jatah waktu manusia hidup di dunia (makin tua seseorang), makin bertambahlah rasa cintanya pada dunia, makin bertambahlah sifat serakahnya.

Metode ini adalah metode yang timbul dari rasa apatis melihat segala sesuatu yang sudah tidak masuk di akal lagi, betapa pendeknya tujuan manusia hidup di dunia.

Metode ini memang tidak mungkin dilakukan tapi sangat mungkin terjadi !

Kiamat juga pasti terjadi koq ! Apa yang nggak mungkin terjadi ?

Koruptor susah ditangkap, koruptor susah diadili, koruptor susah dihukum, koruptor pakai topeng yang selalu berganti tapi wajah aslinya selalu terlihat jelas di koran, televisi, di dinding kantor-kantor, suaranya terdengar di radio, dan media lainnya. Mereka membicarakan keadilan, kepentingan rakyat dan berkhotbah kebaikan dan kebenaran, tapi dalam bathin mereka tertawa terbahak-bahak atas tipu muslihat perkibulan yang mereka lakukan. Pengecut tengik parasit penghisap darah rakyat. Bangsat munafik berhati busuk dengan senyum tanpa dosa. Seonggok daging berlapis pakaian mewah yang tidak berjiwa sampai tanahpun tidak mau ditanaminya.

Maaf jika saya yang apatis ini tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kalian. Silakan salahkan saya atas tidak bereaksinya saya membiarkan kalian terseret arus pikatan dunia yang hina.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s