MUSUH TERBESARKU ADALAH DIRIKU SENDIRI

Tidak ada satu orangpun yang aku takuti di dunia ini, tidak itu presiden, jendral, preman, pembunuh bayaran, bos, atasan atau siapapun itu. Rasa takut seorang manusia muncul karena rasa bersalahnya. Rasa takut manusia akan hilang dan benar-benar hilang sampai saat dia mati, pingsan hanya membuat rasa takut hilang untuk sementara saja. Nah, kalau tujuan akhir hidup ini diawali dengan mati, buat apa susah-susah takut. Ada orang yang takut mati, ada orang yang takut untuk hidup. Bayi menangis ketika dilahirkan mungkin karena takut tidak akan mampu bertahan dan kuat terhadap godaan dunia yang akan dijalaninya.

Aku percaya tiap hal kecil dan besar semasa hidupku, semuanya adalah kehendak Allah. Tapi ketika aku keluar dari kenyataan tersebut, aku seolah seseorang yang mengatur, membentuk, memilih setiap apa yang ingin kulakukan. Semua pertanyaan, semua masalah yang muncul bisa kuperoleh sendiri jawaban dan solusinya, itulah proses hidup. Berdasar pada asumsi tersebut, aku bisa mengendalikan diriku sendiri, aku tidak tergantung pada orang lain, walaupun terkadang karena keyakinanku bisa mengendalikan diri sendiri, orang lain berpendapat lain, mereka berpikir bahwa aku diluar kendali.

Salah satu penghalang, pengganggu, pembuat kacau adalah diriku sendiri, kesalahan mengambil keputusan yang aku sesali, kesalahan menentukan langkah yang harus diambil membuat aku semakin yakin bahwa nasibku ditentukan oleh kemauanku sendiri, dipengaruhi oleh ilmu, pengetahuan, sejarah hidup, keinginan, nafsu yang membentuk diriku dan terbentuk oleh diriku sendiri juga . tidak ada situasi, orang, kejadian, masalah yang bisa membuatku takut. Semua sudah terukur dan bisa dipahami. Takut miskin karena orang di sekita kaya, takut bodoh karena orang di sekitar pandai, takut gagal karena orang di sekitar berhasil, semua itu hanyalah hal biasa, semua itu hanyalah takdir, semua itu hanyalah sekedar kehendak Allah. Tapi satu hal yang masih terpikir apakah aku takut terhadapnya atau tidak…satu hal tersebut adalah tersesat, aku agaknya sedikit terpikir rasa takut jika sampai tersesat, melenceng dari “jalan yang lurus”, untuk itu aku harus selalu minta petunjuk jalan lurus, petunjuk untuk orang yang diberi nikmat dan bukan jalan orang yang dimurkai dan apalagi yang sesat.

Takut neraka karena ada orang yang bisa langsung ke surga, tidak juga, dengan tingkah laku dan ilmu yang ada sekarang ini, mengalami siksa neraka di akhirat nanti merupakan hal yang lumrah bagiku. Yang bisa diupayakan hanyalah berusaha berbuat baik sebanyak mungkin dan lupakan, tidak ada yang pantas untuk diingat-ingat, tidak ada yang layak dimintai balasan atau pahala terhadap semua itikad baik kita, semua itu tidaklah seberapa, dan apa salahnya mencoba. What I can say just …nothing to loose ! Semua itu hanyalah takdir.

Si A cerdas, genius hanyalah takdir, si B kaya hanyalah takdir, aku bodoh hanyalah takdir. Takdir di luar kehendak dan pemahaman manusia, jalani saja. Ada saat dimana posisi bisa terbalik, ada saat di mana sesuap nasi hanya bercampur garam tak terhitung nikmatnya dibandingkan sepiring nasi penuh lauk pauk yang lezat.

Apa yang menyulitkanku adalah diriku sendiri, keinginanku, nafsuku. Jika saja aku bisa mengendalikan diriku, bukan diriku yang mengendalikan aku, aku yakin …pada saat itulah, karena Allah Yang Maha Pengasih, Penyayang dan Pengampun terhadap umatnya, habis sudah waktu siksaan jiwa terkurung dalam bentuk fisik yang sangat tidak berarti ini, diambillah nyawaku agar tidak berbuat lebih banyak dosa lagi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s