KABEL LISTRIK, TELPON YANG SEMRAWUT MELINTASI JALAN-JALAN DI SELURUH INDONESIA

Fenomena ini baru saya sadari ketika dalam perjalanan kota di dalam bus AKAP Yogya-Semarang.sepanjang perjalanan yang terlihat sangat mencolok adalah kabel-kabel yang semrawut melintasi jalan dengan posisi lintang, ketinggian, dan bentuk yang tidak standar. Belum lagi adanya sisa kerangka layang-layang dan benangnya,bekas tali spanduk yang masih menempel di tiangnya.

Proses instalasi yang tidak masuk dalam kajian Standar Nasional Indonesia (atau justru seperni inikah standar nasional Indonesia-sia), membuat semua terlihat semrawut, sesemrawut birokrasi dan kerja dari semua pihak yang seharusnya bertanggungjawab mengatur dan bekerja pada bidang tersebut. Belum lagi ditambah adanya galian jalan yang tumpang tindih yang dilakukan terus menerus dan berulang kali seolah tidak ada perencanaan jangka panjang dalam lingkup perencanaan tata kota yang nyaman. Gali seenaknya, tutup seenaknya hanya demi kepentingan bisnis semata. Seperti memang disengaja untuk menambah pundi-pundi kekayaan orang-orang terkait yang mereka sebut ‘proyek’, proyek menyunat uang negara, makin sering makin kaya. Makanya, gara-gara sering disunat, negara jadi mandul, negara dikebiri oleh orang-orangnya sendiri, jadi negara yang tidak berani, tidak tegas, tidak punya harga diri, tidak percaya diri.

Perubahan terhadap suatu rencana bisa saja terjadi, tapi kalau perencanaan dibuat sebaik-baiknya dengan banyak faktor yang dipertimbangkan, perubahan tidak akan terasa sangat mengganggu atau merusak rencana yang telah dibuat sebelumnya. Perencana harus dipilih seseorang atau sebuah tim yang anggotanya merupakan ahli di bidangnya plus memiliki wawasan yang luas akan hal-hal lain di luar bidang kerjanya.

Bangsa ini hanya bisa rapi kalau disuruh menutupi aib-aibnya, diluar itu semua dilakukan seadanya asal tenggat waktu tidak dilanggar, walaupun dengan kualitas hasil kerja yang di bawah standar orang yang tidak tahu.

Memang dalam setiap pekerjaan, apalagi pekerjaan instalasi, pasti akan ada kendala sosial, geografis, prosedural. Tapi kalau standar sudah ditetapkan dan merupakan suatu kewajiban yang mutlak untuk dilakukan dengan memberikan sangsi atas ketidaksesuaian, saya pikir semua bidang pekerjaan akan melakukan pekerjaan mendekati/sesuai standar yang ditetapkan. Toleransi pastilah ada, tapi tidaklah akan melenceng jauh dari hasil yang seharusnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s