AKHLAK KELUARGA MUHAMMAD SAW

Ketika manusia berhadapan dengan problem, ia menciptakan keraguan untuk menuju keyakinan. Tidak bisa ditawar-tawar lagi, keraguan tersebut harus dipecahkan, tanpa bisa dihindari barang sedikitpun.

Imam al- Shadiq berkata bahwa Nabi bersabda,” Maukah kalian aku beritahu tentang orang-orang yang menyerupai diriku?” Orang-orang menjawab,” Tentu, ya Rasulullah.” Rasulullah bersabda,” Mereka adalah orang-orang yang paling baik akhlaknya di antara kamu sekalian, halus sikapnya, berbakti kepada kerabatnya, cinta terhadap saudaranya, paling sabar dalam membela kebenaran, paling mampu mengekang amarah, pemaaf dan sanggup menguasai dirinya, baik ketika senang maupun marah.”

Al- Shadiq berkata,” Sesungguhnya kami sangat mencintai orang yang berakal, memiliki pemahaman yang dalam, bijaksana, sabar, jujur, dan menepati janji. Allah yang maha perkasa mengkhususkan para nabi dengan akhlak-akhlak yang mulia. Maka, barangsiapa memiliki akhlak seperti itu, hendaknya dia memuji Allah atas karuniaNya, dan barangsiapa belum memilikinya maka hendaknya dia merendahkan diri kepada Allah dan memohon kepadaNya agar dianugerahi akhlak tersebut.”

Sepuluh akhlak yang mulia : yakin, merasa cukup dengan apa yang ada, sabar, syukur, bijak, perangai baik, semangat, dermawan, berani dan mempunyai harga diri.

Al- Shadiq pernah berkata,” Sesungguhnya kekuatan yang baik bertebaran di alam semesta. Barangsiapa memiliki bagian terbesar darinya, dialah orang yang paling manusiawi.

Sepuluh sifat mulia : kejujuran sikap, kejujuran bicara, melaksanakan amanat, menyambung persaudaraan, memuliakan tamu, memberi makan peminta-minta, memberi upah kepada pekerja, segan kepada tetangga, segan kepada sahabat, dan sebagai sumber semuanya, rasa malu.”

Imam al- Shadiq berkata,” Seorang mukmin memiliki kekuatan di dalam agama, kemauan keras dalam kelembutan, iman dalam keyakinan, rakus dalam mempelajari ilmu agama, bersemangat dalam mencari petunjuk, konsisten dalam kebaikan, sabar mencari ilmu, cerdik dalam keramahan, dermawan dalam kebenaran, sederhana ketika kaya, indah dalam kesadaran, pemaaf ketika berkuasa, taat kepada Allah, mengikuti nasehatNya, mengendalikan hawa nafsu, wara’ pada yang disukai, menjaga jihad, sibuk dalam shalat, sabar menghadapi kekerasan, sabar menjauhi hal-hal yang dilarang, bersyukur ketika mendapatkan kebaikan, tidak menggunjingkan orang, tidak sombong, tidak memutuskan hubungan dengan kerabat, tidak dikelabuhi oleh yang hina, dan tidak terlena dalam kesenangan.”

Al Baqir berkata,” Barangsiapa mencari kekayaan dunia karena menghindari dari meminta-minta kepada manusia dan untuk menghidup keluarganya, mengasihi tetangganya, maka dia akan bertemu dengan Allah dengan wajah berseri-seri seperti cahaya bulan pada malam purnama.”

Al Shadiq berkata,” Allah memberikan kepada kamu sekalian harta-harta ini agar dimanfaatkan sesuai dengan petunjuk Allah, dan tidak memberikannya kepadamu untuk ditumpuk saja. Karena itu, tidak bisa tidak, seseorang harus menggunakan dan memanfaatkannya. Kalau dia orang kaya, maka sebaik-baik orang adalah yang membelanjakan hartanya untuk kebaikan, meringankan beban keluarga dan masyarakat, dan menyelamatkan orang-orang yang mengalami kesulitan dan musibah. Hendaknya harta dikeluarkan di jalan yang mulia, bukan di jalan yang hina, serta tidak pula untuk mendukung para pelaku kejahatan dan dosa.”

Jika engkau ingin mengetahui kebaikan/kejahatan yang dilakukan seseorang, maka perhatikanlah di mana dia menggunakan miliknya. Kalau dia menggunakannya pada tempatnya, maka ketahuilah bahwa orang itu telah melakukan kebaikan. Akan tetapi jika dia menggunakannya tidak pada tempatnya, maka orang itu tidak akan memperoleh balasan atas kebaikannya di akhirat kelak.”

Imam al- Shadiq as berkata pula,” Ada empat hal yang hilang percuma : kasih sayang yang diberikan kepada orang yang tidak bisa dipercaya, kebaikan yang diberikan kepada orang yang tidak mau mensyukurinya, ilmu yang diajarkan kepada orang yang tidak mau melaksanakannya, dan rahasia yang disampaikan kepada orang yang tidak bisa menjaganya.”

Imam al Baqir as mengatakan,” Ada tiga perbuatan yang pelakunya tidak akan mati sebelum menerima bencana : membangkang (terhadap kebenaran), memutuskan tali persaudaraan, dan sumpah palsu.”

Imam Ali ibn al- Husain as mengatakan,” Sungguh aku malu kepada Tuhanku bila aku melihat seorang saudara demikian kikir kepada saudaranya untuk memberikan barang satu atau dua dinar guna membantunya, padahal dia (yang kikir) mengharap surga Allah. Di hari kiamat kelak, akan dikatakan kepadanya,” Sekiranya surga itu milikmu, pasti engkau lebih kikir lagi,”.”

Imam al Shadiq as mengatakan,” Musyawarah tidak bisa dilakukan keucali dengan menaati batas-batasnya, hendaklah ia mematuhinya. Kalau tidak demikian, maka bahayanya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya.” Yang pertama, anggota musyawarah hendaknya orang yang pandai. Kedua, hendaknya dia orang independen dan taat beragama. Ketiga, jujur dan bersahabat. Keempat, tahu tentang rahasia anda setingkat dengan pengetahuan anda tentang rahasia dirinya. Dengan demikian pengetahuan anda dan pengetahuannya sejajar, dan karena itu dia pasti akan melindungi rahasia anda; kalau dia seorang yang pandai, maka dia bisa memberikan banyak manfaat dalam permusyawaratan, jika dia independen dan taat beragama, maka dia pasti akan bersungguh-sungguh dalam menyampaikan nasehat kepada anda ; dan jika dia jujur dan bersahabat, maka dia pasti akan menjaga rahasia anda saat anda membeberkannya, dan demikian pula sebaliknya.”

Imam al- Shadiq as ( Pesan Rasulullah kepada Imam Ali )

” Tidak ada pengambilan keputusan yang lebih bisa dipercaya kecuali lewat musyawarah, dan tidak ada akal yang lebih baik ketimbang menalar.”

Imam Ali mengatakan,” Orang yang bersikap otoriter dalam berpendapat, pasti celaka, sedang orang yang mengajak orang lain bermusyawarah, berarti mereka bersekutu dalam menggunakan akal.”

Imam Ali,” Sungguh seseorang telah membahayakan dirinya manakala dia memandang cukup dengan pendapatnya sendiri.”

Imam al Shadiq,” Barangsiapa tidak memiliki penasehat dalam hatinya, pencegah pada dirinya, dan tidak pula mempunyai pendamping yang pandai, maka musuhnya sangat mungkin menekuk lehernya.”

Rasulullah berkata,” Tiga hal yang jika seseorang tidak memilikinya maka amalnya tidak sempurna : wara’ yang mencegahnya dari kemaksiatan kepada Allah, akhlaq yang dengan itu ia mengunjungi sahabat-sahabatnya, dan kesantunan yang dengan itu ia menghadapi kebodohan orang bodoh.”

Perbuatan anda yang menyebabkan seseorang menjadi bahan tertawaan dan ejekan orang, sungguh merupakan bukti bagi kebodohan anda tentang orang lain dan kedangkalan kepercayaan anda tentang nilai-nilai kemanusiaan.

Imam al Shadiq :

” Barangsiapa memeratakan kekayaannya kepada orang miskin dan bertindak obyektif terhadap orang banyak, maka ia adalah mukmin sejati.”

Beliau mengatakan pula,” maukah kalian memberikan jaminan empat hal kepadaku dengan memperoleh empat rumah di surga ?

Infakkan hartamu dan jangan takut menjadi miskin, sebarkan salam di dunia, bebaskan orang yang bersalah kepadamu sekalipun engkau berhak menuntut hukuman atasnya, dan bersikap obyektiflah kepada orang lain.’

” Ada tiga orang yang sangat dekat kedudukannya dengan Allah di hari kiamat, sehingga mereka bebas dari hisab : orang yang tidak menggunakan begitu saja kekuasaannya ketika sedang marah sehingga bertindak adil kepada orang di bawahnya, orang yang berjalan bersama dua orang dan dia tidak condong sedikitpun kepada salahsatu diantara keduanya, dan orang yang berkata benar tentang hak dan kewajibannya.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s