MENCETAK BIBIT GENERASI BERKUALITAS

Cara-cara simple, sederhana dan sepele bisa dilakukan untuk mengarahkan generasi muda, baik itu anak kita, anak-anak di lingkungan kita maupun anak lain yang selalu kita temui di mana saja. Pemberian contoh atau teladan atau pencekokan persepsi yang baik akan lebih mudah dilakukan kepada seorang anak pada usia di bawah 10 tahun, hal inipun akan lebih diingat sampai saat mereka dewasa nanti. Adanya kejadian traumatis pada diri seorang anak juga sangat besar pengaruhnya dalam waktu sangat lama, selalu teringat dan membentuk pembawaan mereka sampai dewasanya.

Menganggap anak kecil sebagai bagian yang sama dengan orang dewasa lain di sekitarnya  dapat membentuk rasa kepercayaan diri mereka. Anak kecil sudah merasa diorangkan. Anak kecil yang kritis akan protes jika suatu saat sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah, ibu, dua orang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki yang semuanya telah mengecap pendidikan tingkat atas, sedang si anak kecil masih SD kelas 1, masuk lewat pos TPR sebuah tempat wisata. Petugas piket bertanya,” Berapa orang pak ?” Si bapak menjawab “lima orang, Pak !”

Petugas TPR melongok ke dalam mobil dan menghitung hanya orang dewasa yang memang benar hanya lima orang. “ Tiket masuk per orang Rp.5000, jadi semuanya Rp.10.000, ditambah TPR mobil Rp. 4000, total Rp.14.000, Pak !”

Si anak kecil kelas 1 SD itupun agak keheranan dan mencoba menghitung sendiri jumlah orang di dalam mobil termasuk dia sendiri, 1,2,3,4,5,6.

“Lho, orangnya kan ada 6, kok cuma bilang lima ? Kok, adik nggak dihitung ?”.

“Emang adik bukan orang ya, pa ?”

Anak kecil yang tidak biasa diorangkan ini akan menganggap dirinya dan anak lain seusianya tidak memiliki hak yang sama dengan orang lain. Mereka jadi kurang dibentuk perasaan percaya dirinya dan keberadaannya merasa tidak dibutuhkan, dan ini akan berlanjut terus sampai mereka telah menjadi orang dewasa, menjadi orang tua atas anak-anak mereka kelak.

Kejadian yang hampir sama juga terjadi ketika seorang kondektur tidak turut menghitung ongkos perjalanan angkutan umum, karena sang anak yang dipangku orang tuanya. Berapa mahalkah ongkos bayar satu tempat duduk untuk membentuk pola pikir anak akan keberadaannya di lingkungannya ? Nggak Mahal !

Alangkah baiknya pembelajaran keberadaan anak kecil dikembangkan sejak mereka kecil, dilatih mengambil keputusan sendiri sehingga mereka akan menemukan, akan merasakan sendiri konsekuensi keputusan yang mereka ambil sebagai bahan pelajaran ke depan suatu saat mereka mengalami situasi yang sama.

Contoh sepele lainnya, suatu ketika pada saat kita mengajak keponakan atau anak kita jalan-jalan melatih koordinasi panca indra mereka keliling lingkungan sekitar, pada setiap perempatan yang kita lewati coba kita berikan kebebasan memilih bagi anak untuk mengambil keputusan sendiri arah mana yang dia inginkan. Hal ini tentunya tidak akan menjadi masalah secara umum karena tidak ada tujuan pasti dalam aktivitas jalan-jalan yang sedang dilakukan. Pada batasan tertentu anak diberi keleluasaan untuk memutuskan apa yang diinginkannya, bermain api akan terbakar, bermain air akan basah ( bermain perempuan dimarahin istri ), setidaknya mereka akan tahu tiap resiko yang terjadi atas keputusan yang diambil. Memahat bentuk kemandirian pada anak anak akan memberikan bekal berguna kepada anak pada saat orang tuanya tidak berada di sisinya, hal ini juga akan menguntungkan orangtua juga, tetapi perlu dilakukan dengan cerdas, mencoba berbagai teori yang banyak terdapat di buku-buku karangan psikolog anak, psikolog pendidikan dan pengalaman orang lain. Mereka diharapkan akan menjadi lebih cepat dewasa dan mengalami laju percepatan yang lebih dibanding teman seusianya, bisa memimpin teman-temannya, bisa memberikan motivasi atau pengaruh positif  dalam aktivitas ringan kesehariannya yang akan membentuk kecerdasan emosional dan membuat anak akan memiliki dasar kompetensi umum di atas rata-rata.

Dalam proses pemilihan alternatif yang sederhana, seorang anak sebaiknya diberi hak bicara juga, mau beli buah apa, mau beli pakaian yang mana, mainan yang bagaimana, tindakan yang seperti apa, reaksi yang bagaimana, tindakan yang seperti apa, seberapa besar uang yang ingin disedekahkan kepada seorang pengemis, dan lain sebagainya. Selama konsekuensi atas semua pilihan apapun yang ditetapkannya sendiri tidak akan merugikan anak, apa salahnya kita mengalah.

Dengan terbiasanya seorang anak diberi kebebasan menentukan keinginannya, bakat dan minatnya akan lebih dini diketahui sehingga kita sebagai orang yang lebih tua bisa mengarahkan mereka agar lebih mudah mengasahnya.

Kita juga terkadang perlu mengkondisikan anak pada kemungkinan yang terburuk, jangan dibiasakan dia selalu berada pada situasi terbaiknya saja. Seorang anak tidak harus selalu unggul dalam tiap kompetisi apapun yang diikutinya, bisa jadi melalui suatu kekalahan lebih membuat dia mampu belajar banyak dibandingkan ketika dia menang.

Seorang anak dari sebuah desa akan lebih memiliki daya juang yang besar dibandingkan seorang anak mama dari kota. Perbedaannya hanyalah masalah kesempatan yang ada saja. Dengan fasilitas yang lengkap di kota yang disediakan orang tuanya, seorang anak akan membutuhkan masa adaptasi yang lama dan sulit jika mereka harus ditukar nasibnya dengan kondisi anak desa. Sebaliknya bagi anak desa, mereka lebih mudah belajar hal-hal baru dalam kondisi ditukar nasibnya dengan anak kota. Anak desa terbiasa berenang di sungai dengan arus deras, mereka tidak akan mengalami kesulitan berarti pada suatu saat dihadapkan dengan kolam renang yang jernih, bersih dan aman. Anak kota yang pandai berenang di kolam renang pribadi akan berpikir dua kali ketika diminta menyeberangi sungai dengan berenang, arus, bebatuan, sampah, tempat yang tanpa pijakan untuk turun maupun naik ke dan dari sungai kecuali bongkahan karang tajam.

Anak desa yang terbiasa berjalan menuju sekolah tiap pagi tidak akan mengalami masalah berarti ketika dia harus diantar seorang sopir dengan mobil dinas ke sekolahnya, sebaliknya.

Kekuatan fisik ( dengan asumsi faktor genetik yang sama ) anak desa lebih bagus dibandingkan anak kota, ini dipengaruhi oleh proses pembentukan yang alamiah, makanan yang alami, minimnya mereka mengkonsumsi zat kimia aditif bernama vitamin, obat, nutrisi buatan dan bahkan pola pikiran dan persepsi mereka pun alami murni, bukan buatan. Makanan imitasi vesi revolusi industri tidak lebih baik daripada makanan alami buatan ibu sendiri dari bahan alam kebun sendiri. Jeruk, nanas, nangka, kelapa, strawberry, melon yang mereka makan memang berasal dari buah asli, rasa manis dari gula, rasa pedas dari cabai bukan esens, perasa kimia buatan ahli kimia yang bisa menciptakan berbagai macam rasa yang diproduksi secara massal untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang termakan iklan. Makanan kualitas nomer satu seperti pecel, gudangan, kluban dari bahan di sekitar kebun sendiri seperti kacang panjang, kecipir, bayam, kobis, daun ketela, peterseli/kenikir, akan lebih bagus membentuk endurance seseorang dibandingakan mie instant, bubur instant dan makanan kemasan lain produksi massal yang cuma terasa enak sebatas di lidah saja walaupun pada kemasannya diuraikan kandungan gizi semu secara detail.

Seekor anak burung yang sakit jatuh dari sarangnya dan jauh dari induknya akan lebih cepat masa penyembuhannya jika diberikan makanan alami telur semut, dibandingkan diberi pelet buatan yang kata kemasannya mengandung protein, lemak, ntrisi dalam prosentase angka-angka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s