GURU SEJATI ADALAH KEBENARAN

GURU SEJATI ADALAH KEBENARAN

(Disadur dari blognya siapa, aku lupa)

Lewat kisah hidup Rumi itulah saya pelan-pelan mulai mengerti kenapa ksatria yang belajar memanah itu dengan sengaja membuat dan mendirikan patung Durna di tempat di mana ia sehari-hari berlatih memanah. Kata kuncinya adalah “kehadiran” (presence).

Seperti yang sudah sepintas saya paparkan, bagi seorang murid, setidaknya dalam kasus Rumi dan si ksatria itu, kehadiran seorang guru adalah syarat mutlak dalam sebuah prosesi pembelajaran; pembelajaran untuk mencapai tingkat keahlian tinggi dalam hal penah-memanah bagi si ksatria dan proses pencapaian tingkat spiritualitas yang makin meninggi dan penghayatan atas mistisisme yang kian mendalam dalam kasus Rumi.

Tampaknya nyaris dipastikan bahwa “kehadiran” Durna dalam kasus sang ksatria adalah sesuatu yang mutlak, karena tanpa kehadiran Durna tidak hanya sang ksatria itu akan melorot kepercayaan dirinya, absennya sang guru juga akan membikin semesta pembelajaran itu menjadi tak komplit.

Sementara dalam kasus Rumi, tampak jelas bagaimana ringkihnya mental dan spiritualitas Rumi sewaktu ditinggal lenyap Syams. Bagaimana Rumi mendadak kehilangan sentuhan magis-puitiknya sewaktu untuk meneruskan menulis Mastnawi sewaktu Hisyamuddin tak disampingnya selama sekian pekan.

Tetapi kemudian ada yang masih mengganjal dari kisah ksatria yang belajar memanah itu. Jika Rumi tampak wajar bisa menyerap energi spiritual dan mistisisme seorang Syams karena memang Rumi berinteraksi langsung dengan sang guru, maka fragmen Mahabharata ihwal kesatria yang belajar kepada patung Durna dan sukses mencapai tingkat keahlian memanah yang sama baiknya dengan ksatria yang secara langsung berguru pada Durna, menjadi menarik untuk dipersoalkan.

Apa gerangan yang membuat kehadiran hanya sebiji patung bisa sama harga dan efeknya dengan kehadiran langsung seorang guru? Apakah ini hanya terjadi dalam sebuah kisah epik saja?

Saya baru menemukan hal yang sama ketika dua tahun silam saya sempat membaca tulisan seorang anggota tarekat Naqsyabandiah. Saya lupa judul bukunya apa. Di cari-cari di rak buku pribadi juga tak tampak lagi buku itu.

Saya bisa kembali memanggil ingatan saya yang sudah retak-retak tentang buku anggota tarekat Naqsyabandiah itu setelah saya membaca buku karangan Carl W. Ernst, The Shambala Guide to Sufism. Salah satu bagian paling menarik dari buku itu juga memaparkan keunikan hubungan guru-murid dalam tradisi sufi, baik hubungan guru-murid dalam sebuah tarekat maupun yang tidak terikat pada satu tarekat.

Di bukunya, Carl W Ernst menyebut kalau asal-usul eksperensial institusi-institusi sosial sufisme adalah dari hubungan guru-murid atau mursyid-murid. Mursyid juga disebut sesepuh (syaikh dalam bahasa Persia). Orang yang belajar kepada mursyid disebut murid, artinya orang yang berhasrat, sementara sang mursyid sendiri disebut murad atau orang yang kepadanya ditujukan hasrat.

Tidak semua orang bisa menjadi seorang guru sufi. Seorang yang punya derajat spiritual tinggi dan penghayatan mistikal yang mendalam belum tentu bisa menjadi seorang guru sufi. Menurut Baha al-Din Naqsyabandi, pendiri tarekat Naqsyabandiah, mereka yang telah mencapai titik akhir perjalanan mistik, mereka yang sudah sempurna iman dan suci spiritualnya, terbagi ke dalam dua kelompok.

Pertama, mereka yang sempurna tetapi tidak dibebani tugas untuk mengantarkan orang lain kepada kesempurnaan spiritual. Orang seperti ini biasanya terbenam sedalam-dalamnya dalam buaian “samudera kesatuan” (bahr-i jami’) dan menghilang dalam kefanaan. Ibarat orang yang sudah tak sadarkan diri, bagaimana bisa ia memerhatikan orang lain?

Kedua, mereka yang memiliki sifat “sempurna lagi menyempurnakan” (kamil-mukammilan). Kendati sudah menyelam dalam “samudera kesatuan” dengan Sang Maha Kekasih, mereka mampu muncul kembali dari kefanaan dan lantas menyusuri “pantai kefanaan”. Orang seperti ini, kata Yakub Charqi, adalah guru yang tidak saja memiliki kesempurnaan diri tapi juga mengantarkan orang lain kepada kesempurnaan sebagai orang yang teriluminasi (nurani) serta mengiluminasi (nurbakhsy).

Para Pencari Cinta, orang-orang yang memilih laku sufistik, biasanya akan mencari orang-orang suci macam yang kedua itu untuk dijadikan guru/mursyid. Pencarian terhadap guru yang sejati, guru sempurna lagi menyempurnakan, sering kali menghabiskan waktu yang tak sedikit, pengorbanan yang tak secuil, dan kerelaan untuk terus-menerus mencari sampai guru sejati itu akhirnya tampak dan menampakkan diri.

Selama proses pencarian, bukan hil yang mustahal jika Si Pencari Cinta itu akan menemukan guru yang bukan sesungguhnya guru, guru yang bukan guru sejati. Pecinta yang teguh biasanya tak akan menyerah kalah karena biasanya dia tahu bahwa itu adalah satu tonggak pengujian dan penyucian diri.

Hazrat Inayan Khan menjanjikan bahwa tak perlu takut untuk tak menemukan seorang guru sejati. Sebab, kata Inayat, “guru sejati adalah kebenaran. Dan jika orang yang sungguh-sungguh mencari kebenaran, cepat atau lambat akan menemukan seorang guru sejati. Lalu andaikan seseorang berhubungan dengan guru yang salah, lalu apa? Lalu yang sejari akan mengubah guru yang salah itu menjadi guru sejati.”

Ada kisah di kalangan Tarekat Naqasyabandiah tentang bagaimana gigihnya Salman al-Farisi pergi mencari Nabi Muhammad, Sang Maha Guru Sufi. Satu kali Salman al-Farisi, yang berasal dari Persia, mengetahui dari buku yang telah dibacanya dan melalui suatu tanda-tanda yang muncul di gugusan bintang, bahwa bahwa Rasul terakhir telah muncul di Mekkah. Salman tahu bahwa akan terjadi suatu peristiwa besar di dunia ini. Dan dia khusyuk berniat ke Mekkah. Untuk pergi ke sana, dia menjual dirinya sebagai budak kepada beberapa orang yang pergi ke Mekkah, dan mengiringi unta milik orang yang membelinya sepanjang 5.000 mil dari Persia ke Mekkah untuk bertemu Rasulullah.
Seperti ditunjukkan Salman al-farisi, sama sekali tak mengejutkan jika seorang Pencari Cinta yang gigih akan mempertaruhkan semuanya untuk dan sewaktu ia dipertemukan dengan guru yang sejati. Pertaruhan total itu berarti juga ketaatan yang nyaris total; model ketaatan yang nyaris tanpa batas. Total sepenuh-penuhnya.

Sebuah contoh totalitas ditunjukkan seorang murid terhadap gurunya bisa disimak dari kisah yang dipercaya dialami oleh sufi besar Abu Yazid al-Bistami. Suatu ketika, al-Bistami yang sedang duduk di ujung kaki gurunya disuruh mengambilkan buku yang tergeletak di dekat jendela. Al-Bistami kebingungan dan linglung mencari di mana jendela itu berada, padahal jendela yang dimaksukkan gurunya ada begitu dekatnya.

“Kamu sudah di sini dalam waktu yang lama, masak tak tahu di mana jendela?” tanya sang guru.

“Tidak,” balas al-Bistami. “Apa yang perlu saya kerjakan terhadap jendela itu? Ketika saya ada di hadapan engkau, saya menutup mata terhadap segala sesuatu yang lain. Saya datang ke sini tidak untuk melihat-lihat.”

Kabarnya, begitu mendengar jawaban al-Bistami, sang guru langsung menyuruhnya pulang karena al-Bistami dianggap sudah tuntas melaksanakan tugas dan memelajari laku sufistik darinya.

Konsentrasi habis-habisan seorang al-Bistami terhadap gurunya membuat kisah Rumi dengan Syams menjadi tampak lumrah. Sebab bagi murid seperti Rumi, tak ada yang lebih penting selain sang guru. Keluarga, murid, nama besar, gelar akademik dan prestise di mata masyarakat Konya sama sekali tak ada harganya dibandingkan kebersamaan dengan sang guru.

Di dalam kedekatanya dengan sang guru, murid tidak hanya mendengarkan semua kata-kata yang diucapakan sang guru, melainkan juga harus mengkhidmatinya, tanpa membantah, dan lantas melaksanakannya dengan ikhlas dan penuh kepercayaan bahwa apa yang dititahkan sang guru sebagai hal yang tidak hanya mutlak tetapi juga akan membawa dirinya naju setapak demi setepak makin mendekati kebenaran dan penyatuan dengan Sang Maha Kekasih.

Ketidaktaatan dan ketidakpercayaan terhadap sang guru, tidak hanya membuat hubungan guru-murid menjadi tercederai, tetapi bahkan menghancurkan esensi terdalam dari hubungan guru-murid itu. Jika itu sampai terjadi, maka gamblang terpapar bahwa sang murid belum sepenuhnya menanggalkan ego dan melepaskan segenap-ganjil atribut-atribut kemanusiaannya.

Ada sebuah kisah yang bisa dijadikan tamsil ihwal akibat dari ketidaktaatan murid pada gurunya. Satu ketika, Syaikh Junayd hendak menolong seseorang yang sedang menunggu kapal yang akan menyeberangkannya ke seberang. Junayd berjanji akan membantu menyeberangkannya dengan syarat orang tersebut mengucapkan apa yang diucapkan oleh Junayd sepersis-persisnya.

Junayd lantas menggamit orang itu dan mulailah mereka berjalan di atas air. Junayd mengucapkan, “Allah yang Maha Kuat… Allah yang Maha Kuat…”, sementara orang yang digamit Junayd mengikuti ucapan itu sepersis-persisnya.

Mereka pun sampai setengah perjalanan dan Junayd masih saja mengucapkan lafal yang sama terus-menerus. Tetapi orang itu mulai bertanya mengapa dia harus membatasi diri dengan mengucapkan hal-hal yang itu-itu saja. Dia memutuskan untuk memohon langsung pada Allah. Dan persis ketika ia mengucapkan kata-kata “Allah yang Maha Kuasa”, dia pun mulai tenggelam ke dalam sungai.

Junayd kemudian menarik orang itu sehingga tak sampai tenggelam. Junayd kemudian berkata: “Apa kamu pikir kamu bisa menyebut nama-nama Allah? Karena aku tahu mulutmu tidak cukup suap untuk itu, maka aku minta kamu tidak mengucapkan apa-apa selain seperti yang saya katakan.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s