AHMADIYAH

 

AHMADIYAH, SYIAH, SUNNI, MUHAMMADIYAH, NU ATU APAPUNLAH ITU

Seiring dengan bertambahnya umur bumi, akan semakin bertambah pengetahuan yang sebelumnya ghaib bagi umat manusia akan manjadi semakin jelas melalui pengembangan yang dilakukan secara terus menerus dan turun menurun. Prinsip dasar inilah yang kemudian menimbulkan banyaknya teori-teori mengenai berbagai macam masalah, hal ikhwal, spesialisasi, bidang yang kemudian menciptakan terbentuknya berbagai macam ilmu pengetahuan. Ekonomi, sosial, politik, eksakta, mistik, astronomi, aritmatika, hayati dan ilmu agama. Semua orang mempelajari sesuai bidang dan minatnya masing-masing, tidak ada yang mampu menguasai semua ilmu yang telah ditemukan. Semua hanyalah menjadi ahli di bidangnya masing-masing. Tapi tahukah anda bahwa hakikat semua ilmu yang sekarang ada dan mungkin yang akan ada nanti adalah berasal dari satu sumber, ialah ilmu agama. Dengan ilmu agama, orang bisa memperoleh konsep dasar untuk belajar di kehidupan yang sebenarnya yang memuat semua jenis pengetahuan untuk dieksplorasi, untuk di dokumentasi, untuk direvisi, untuk disampaikan kepada khalayak ramai agar semua bisa menelaah sendiri pilihan-pilihan yang mereka tentukan sendiri. Alat untuk memilih itu adalah akal, naluri, logika dan hati. Semuanya mengalami proses, semuanya sedang dalam proses, semuanya sedang berjalan. Belum ada yang mutlak benar di dunia ini, semua akan berubah. Yang dulu dianggap salah, ternyata benar, yang dulu dianggap benar ternyata salah atau belum komplit sehingga perlu diperbaiki.

Hal tersebut menimbulkan terdapatnya perbedaan-perbedaan pandangan, pendapat dan masing-masing merasa yang paling benar. Siapa yang merasa paling benar ? Orang-orang yang bodohlah yang merasa dirinya paling benar ! Saya ? Jelas orang bodoh ! Memang sudah takdir adanya perbedaan, itu harus ada. Jika semua sudah sama pendapatnya, habis sudah dunia ini, habis sudah masa dan hak kehidupan setiap orang yang pernah ada. Kiamat !

Atas dasar gambaran sedikit cerita di atas, maka sangatlah wajar adanya jalur-jalur yang timbul dalam usaha manusia mencari Tuhannya. Ada banyak golongan, ada banyak aliran, ada banyak versi yang timbul disebabkan jauhnya jarak antara saat diturunkannya Wahyu dari Allah hingga saat sekarang ini ( jauh menurut ukuran manusia ), proses berlangsung dalam waktu lama, melibatkan dan mengorbankan banyak nyawa, darah, nafsu, perasaan sehingga mempengaruhi terjadinya penambahan atau pengurangan pengetahuan, ilmu agama yang telah ada sebelumnya. Ilmu agama berkembang berlangsung secara alami dengan berbagai macam kepentingan. Ilmu agama boleh dibilang menjadi tidak baku. Menimbulkan friksi walaupun dalam satu payung yang sama.

Yang perlu dibedakan di sini adalah bahwasanya ilmu agama itu sangat berbeda dengan beragama, ilmu agama bisa sama antara banyak orang yang satu guru satu ilmu, teori yang mereka pelaari dan hafalkan bisa sama, tetapi urusan beragama bersifat habluminallah, bersifat individu, berkaitan dua arah hanya antara satu manusia dengan satu Tuhannya. Tidak boleh ada yang berhak memotong komunikasi yang sedang dilakukan oleh seseorang, karena memang semua manusia itu sedang dalam proses belajar, akan selalu ada perubahan pandangan setiap detik, setiap tarikan nafas, setiap waktu dan itu berlangsung tanpa henti sampai batas akhir kehidupan pribadi tiap manusia. Manusia hanyalah berhak memberitahu, menasehati apa yang telah diketahuinya kepada orang lain dalam kapasitas saling mengingatkan tanpa harus merasa dirinya yang paling benar dan memaksa orang lain untuk mengikuti apa yang diyakininya. Salah besar itu.

Cuma, memang sebagai warganegara di suatu negara yang telah dibaiat untuk mengikuti kedaulatan pemimpinnya, kita dihadapkan kepada momen dimana terdapat pro dan kontra atas suatu keputusan yang telah dibuat oleh pemerintah. Sebagai warganegara yang telah terikat, kita harus bisa menerima kenyataan yang ada walaupun itu pahit bagi seseorang dan mungkin manis bagi orang lain ( menurut ukuran dunia ). Apalagi kalau keputusan itu sudah memaksa warganegara untuk tunduk kepadanya, bayar pajak, apa saja ada pajaknya ( Katanya pajak untuk digunakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat, tapi kenyataannya ?? Rakyat rela uangnya dipakai untuk membayar jerih payah anda mengabdi kepada negara, tapi apa masih kurang sih, memangnya kalau harta sudah banyak mau untuk apa ? Gengsi ? Kepuasan dianggap sukses ? Kalau begitu,….buat apa bayar pajak ? Apa kata dunia ? Eh…Apa kata Direktorat Pajak ?).

Kembali ke pokok permasalahan, sorry kalau ngomongin keadaan bangsa, jadi geregetan nih !

Jadi janganlah memaksakan apa yang menurut anda benar kepada orang lain yang memiliki pandangan dan cara yang berbeda. Bisa jadi anda yang salah, atau mungkin juga anda memang benar, siapa yang tahu ? Sampai saat dibentangkannya semua hakekat kebenaran kepada seluruh umat manusia pada saatnya nanti. Kalau masih ada guru besar kita, alangkah mudahnya bertanya hingga memperoleh jawaban yang pasti dengan telinga kita sendiri, tapi kalau sudah tidak ada ? Carilah terus tanpa bosan walau kita yakin proses pencarian kita tidak akan pernah sampai berakhir pada saatnya nanti, sampai kita nanti berkumpul bersama dan kalau sempat akan bergumam,” Ooo…ternyata begitu !”

Atau sampai kita tidak sempat bahkan untuk berkedip, dan ternyata telah berada di hadapan kita Malaikat Izro’il untuk melaksanakan tugasnya kepada kita.

Terlalu muluk surga bagiku, tapi tidak ada jalan lain selain kita mencoba untuk mencapainya.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s