Kedua hal diatas mau nggak mau pasti menjadi bagian dari proses pencarian jati diri, di era revolusi teknologi informasi saat ini dengan terpaksapun kita harus menghadapi masuknya pemikiran-pemikiran pekerja seni baik film maupun musik, entah itu karena faktor materi, bisnis maupun idealisme mereka. Ada yang cocok dan sesuai dengan selera kita, ada yang kita anggap angin pada masa lalu atau sekarang, tapi pada masa sesudahnya baru kita sadari betapa bagusnya ide pemikiran yang membentuk karya mereka.
Urusan film memang belum bisa disebut penggemar berat, jauhlah, tapi kalau sekedar info terbaru perfilman masih sering saya ikuti berkat kemudahan informasi yang sampai ke mata, telinga (emang Klompencapir, kelompok pendengar dan pemirsa?? Jadi ingat pak Harto !!).
Masa kecil dulu sih sukanya cuma film action saja, Super Ninja, Rambo, Rocky, filmnya Dolph Lundgreen, film mandarin, memang adanya cuma itu kali?? O..ya film DKI juga sering nonton…gaya-gaya model DKI yang vulgar kocak memang relatif menghibur pada jamannya dulu sampai orang berduyun-duyun datang ke bioskop bersama keluarga mau nonton film, sekarangpun kalau nonton ulangan filmnya di stasiun TV masih bisa cengengesan sendiri. (Wahh.. jadi ingat betapa hebohnya dulu film Brama Kumbara, Tutur Tinular yang kalau sekarang nonton lagi sih malah jadi malu sambil cengengesan dalam arti yang lain), Film Indonesia sekarang sih sudah bagus-bagus, menarik dalam arti sebenarnya, sudah memiliki jiwa, misi,visi yang nggak melulu berorientasi ke bisnis, sudah mengajak penonton untuk mencerna sendiri maksud dibuatnya film, mengajak penonton untuk menganalisa dan mengeksplore berbagai pemikiran dan fenomena yang terjadi di sekitar kita. Pokoknya film sekarang lebih edukatiflah, nggak seperti yang dulu lagi seperti film Rhoma Irama, film panas kelas Indonesia, pokoknya lagi ayo maju dunia perfilman Indonesia, ayo Go International mumpung ada semua fasilitas yang mudah sekarang ini.
Karena masih mewahnya nonton film pada jaman dulu, masih sering dijumpai banyaknya versi drive in movienya Indonesia, misbar (gerimis bubar) atau layar tancap, nonton di lapangan, ada mobil Departemen Penerangan, ada suara gensetnya dan kebanyakan mempertontonkan yang nggak layak buat masyarakat, ajang propaganda sejarah tapi nggak sedikit sih ajang pendidikan buat masyarakat. Pokoknya terimakasih deh buat kerja Departemen Penerangan jaman Bapak Harmoko dulu, daripada bosen nonton Laporan Khusus habis Dunia Dalam Beritanya TVRI.
Sering sih nonton di bioskop, jaman belum ada cd dan dvd player, yang ada baru video Betamaxnya Sony, dan disusul era Laser Disc. Kasihan deh melihat kondisi usaha perfilman bagian distribusi sekarang (baca : bioskop) di perkotaan kecil, susah bertahan karena imbas modernisasi. Bioskop jadi usaha hidup segan mati tak mau. Sekarang jamannya harus up to date, teknologi bersifat easy come easy go, baru merasa punya barang baru, eee…nggak lama udah ketinggalan jaman (kuno).
Sejak SMA baru suka dan kenal sama yang namanya film drama, fiksi ilmiah. Apalagi filmnya Meg Ryan, Sandra Bullock, Julia Robert, bisa terbawa ke awang-awang deh kalau nonton, malah kadang membayangkan kalau sayalah yang sedang diperankan sama lawan main mereka !!. Film fiksi iliah futuristik berbau alien, ufo, masa yang akan datang baik film serial di TV, maupun film layar lebar juga sangat menarik perhatian seperti Men In Black, Star Trek, Armageddon, tema invasi alien ke bumi, Quantum Leap, Time Machine, Perfect Storm, Jurassic Park, Bad Boysnya Will Smith, Indiana Jones, film Alfred Hitchock (salah nulisnya ya ?), Harry Potter, dll.
Saya pernah berpikir bahwa film-film alien itu dibuat oleh penulis novel/skenario yang mendapatkan visinya dari penerjemahan ayat-ayat suci Al Quran yang menggambarkan sejarah masa lalu maupun keadaan di masa yang akan datang. Kebanyakan cocok sih kalau disangkutpautkan.
MUSIK
Are you ready to….Rock ???
Yup… saya paling suka dengan musik rock, ngebit, menghentak dengan tempo cepat maupun slownya. Musik rock itu awet enak, never ending things in the world, nggak ada bosennya, nggak ada habisnya. Lagu-lagu slow dan rocknya Jon Bon Jovi, Metallica, Aerosmith, Helloween, Radiohead, Green Day, White Lion, REM, Duran Duran, Bryan Adam, The Police, Cake, Firehouse, Extreme, Skid Row, Sublime (Ska Punk Rock), Toto (yang ini agak lain), Smashing Pumpkins, The Beatles, Paul Simons (mulai variatif nih), bahkan yang baru belajar rockpun kaya Michel Learns To Rock saya suka ngedengerinnya. Kok western semua?? Emang ! Lagu Indonesia kebanyakan cuma enak di denger, syairnya nggak dalam, nggak sampai terbawa ke hati kecuali lagu-lagunya bang Iwan Fals dan lagu lain di mana saya punya kenangan khusus dengannya. Tapi tetap saja, lagunya Koes Plus… OK, Didi Kempot…Genius, Campursari…enak juga, dangdut…adalah !!
Lagu aseli Indonesia yang bisa saya nikmati dalam jangka panjang tentu saja lagu-lagunya Bang Iwan Fals (Apa kabar bang?…Udah banyak orang yang jadi “bangun” lho berkat lagu-lagunya).
Ketika album SWAMI, Kantata Takwa, Revolvere, Kantata Samsara dulu release, saya masih belum paham bener maksud yang ingin mereka sampaikan untuk hits-hits tertentu. Baru beberapa tahun belakangan ini saja saya sedikit bisa memahami, meresapi arti yang mendalam dari makna, ajakan, tekad, idealisme mereka yang sangat sangat indah banget, berani jadi pelopor, waker, sampai-sampai mungkin kehidupannya tersingkir/disingkirkan oleh penguasa. Tapi apalah artinya disingkirkan oleh penguasa, kalau bisa menyuarakan idealisme dan tetap bisa mengabdi dan diberkahi Allah. Matipun rela untuk terciptanya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Bang Iwan dkk sudah berani menyuarakan kata hatinya sejak dulu di masa sulit ( sekarang sudah sampai level mana ya ?, bisa nggak ya kita menyusul atau mengoverlap mereka ??). Kalau sekarang sih sudah banyak orang berani, sok pahlawan ( persis seperti saya kali..he..he !!).
Ini nih syair paling gila yang pernah ada…
KESAKSIAN (KANTATA TAKWA)
Aku mendengar suara
Jerit makhluk terluka
Luka…luka…hidupnya…luka
Orang memanah rembulan
Burung sirna sarangnya
Sirna…sirna…hidup redup
Alam semesta…luka
Banyak orang hilang nafkahnya
Aku bernyanyi menjadi saksi
Banyak orang dirampas haknya
Aku bernyanyi menjadi saksi
Mereka…dihinakan
Tanpa daya…yaaa…tanpa daya
Terbiasa hidup…sangsi
Orang-orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi
Lagu ini jeritan jiwa
Hidup bersama harus dijaga
Lagu ini harapan sukma
Hidup yang layak harus dibela
Kenyataan…harus dikabarkan
Aku bernyanyi…menjadi saksi
Nb : Gilaaaa bangets nih syair !!!!!