Fokus, konsentrasi, dalami, selami, eksplore, cari tahu semua akan membawa setiap orang menuju satu tujuan pasti. Tujuan untuk menemukan Tuhan, tujuan untuk mencari tahu simpul terakhir penyebab semua ini, simpul akhir yang menuntun kita menuju kepada adanya keyakinan tentang sesuatu yang “mempermainkan” kita dalam teka-teki, misteri dan rahasia yang makin lama makin seru dan sedikit demi sedikit mulai terungkap.
Tetapi terkadang proses perjalanan mencari Tuhan yang relatif dirasa panjang membuat seseorang suatu saat berada pada titik bawah kebosanan atau bahkan putus asa sampai berani menentang kenyataan kehendak Tuhan, dan pada saat yang lain seseorsng begitu dekatnya, akrab dengan Tuhan seolah saat itu juga dipertemukan rohnya dengan Tuhannya, dan dia sangat menginginkan tibanya masa itu.
Siapapun orangnya, apapun profesinya, dimanapun tinggalnya, apabila dia benar-benar menghayati hidup ini, semua akan mengerucut pada satu tujuan mengenali dan mencari Tuhannya. Ada yang berangkat lebih awal, ada yang terlambat. Dan bisa saja justru yang berangkat terlambat, dia lebih cepat sampai ke tujuannya.
Pada setiap perjalanan, diperlukan kendaraan dan bekal. Dalam perjalanan mencari Tuhan, kendaraan yang dipakai adalah iman, kemauan, tobat, ikhlas sedangkan bekal yang diperlukan adalah pengetahuan serta pemahaman. Rasa ikhlas dan ridho terhadap kehendak Tuhan akan membantunya memperoleh jalan pintas dan kemudahan mengambil keputusan dalam memilih jalan yang lebih baik dalam setiap persimpangan yang ditemuinya.
Tidak semua orang telah mengenal Islam sebelumnya, maka tidak heran pula apabila ada orang yang telah sampai pada saat dia menemukan Tuhannya tetapi gambaran apa yang dihadapi dan harus dilakukan masih menjadi bagian proses yang harus dicarinya pula, karena keterbatasan dakwah Islam di lingkungannya.
Beda halnya dengan sebagian besar orang Indonesia (misalnya) yang telah mengenal Islam sejak masih kecil, atau setidaknya sering berinteraksi dengan orang Islam yang mendominasi bagian dari lingkungan hidupnya, orang yang terbiasa mengenal Islam justru terlambat dan tidak berkembang pola pemikirannya untuk mengembangkan cara yang harus dilakukan untuk mencapai Tuhannya, mengerjakan perintah Tuhan yang diyakininyapun masih sulit. Padahal competitive advantage telah mengenal sejak dini ini seharusnya menjadi modal dan sumber daya yang bisa dimanfaatkan untuk melakukan proses akselerasi dan percepatan pemahaman Islam yang lebih baik.
Jadi teori kehidupan kalau digambarkan seperti bangunan piramida, dimulai dari bawah dari segenap penjuru dan bersifat umum, menuju satu arah yang sama, mengerucut menuju tingkat yang semakin tinggi, fokus dan bersifat khusus sampai tujuan akhir di puncak
How does it feel to be on top of this journey ?